Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Penyebab Krisis Siswa SD Negeri Pendem Kulon Progo yang Gelar MPLS 2026 Tanpa Siswa Kelas Satu

Anom Bagaskoro • Selasa, 14 Juli 2026 | 14:43 WIB
MPLS: Siswa SDN Pendem Kulon Progo dalam masa pengenalan lingkungan sekolah. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
MPLS: Siswa SD Negeri Pendem Kulon Progo dalam masa pengenalan lingkungan sekolah. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 

KULON PROGO - Krisis siswa yang dihadapi SD Negeri Pendem Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kulon Progo disebabkan oleh beberapa faktor.

Salah satunya, dipengaruhi minimnya jumlah anak lulusan TK di wilayah sekitar sekolah.

"Mulai dari jumlah lulusan TK atau anak usia sekolah yang minim hingga banyaknya sekolah dasar terdekat," terang Guru SDN Pendem Nugraheni Werdyaningsih kepada Radar Jogja, Selasa (14/7/2026).

Baca Juga: Keamanan Diperketat Jelang Duel Inggris vs Argentina di Semifinal Piala Dunia 2026

Atmosfer ini sudah terasa, sajak dua tahun ke belakang.

Jumlah siswa yang mendaftar di SD Negeri Pendem merosot drastis.

Pada tahun 2025, jumlah siswa yang mendaftar hanya dua yang kini duduk di bangku kelas dua.

Nugraheni menjelasakan, pihak sekolah telah memantau bahwa adanya penurunan lulusan TK di wilayah sekitar.

Hal ini berpengaruh pada minat pendaftar yang cenderung memilih sekolah dasar yang lebih dekat.

Baca Juga: Prediksi Prancis vs Spanyol: Dua Raksasa Eropa Saling Sikut Demi Tiket Final Piala Dunia 2026

Kemudian di sejumlah padukuhan juga minim anak usia SD.

"Seperti Padukuhan Pendem, Nabin, dan Banaran. Memang minim anak usia SD," terangnya.

Di lain sisi, pengaruh terbesar adalah wilayah demografi, banyak keluarga yang kini hanya memiliki anak tunggal.

Adapun total seluruh siswa SDN Pendem hanya berisi 50 siswa, yang terdiri dari siswa kelas dua hingga kelas enam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 pada sistem pendaftaran murid baru (SPMB) 2026 tahun ajaran baru 2026/2027 tidak ada satu siswa pun yang mendaftar

 

Tahun Ajaran Baru 2026/2027, SD Negeri Pendem menghadapi krisis siswa pertama kali dalam sejarah. Pasalnya, sekolah dasar yang terletak di Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih itu tak mendapatkan siswa baru dari sistem pendaftaran murid baru (SPMB) 2026. Dampak krisis siswa ini, akan mempengaruhi program sekolah hingga pencairan tunjangan profesi guru (TPG).

Guru SDN Pendem Nugraheni Werdyaningsih menjelaskan, SPMB 2026 telah resmi ditutup dan kini sekolah memasuki masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Hasil SPMB menunjukkan penurunan jumlah pendaftar, hingga memasuki daftar ulang dan MPLS.

"Tahun ajaran baru ini, kami tidak mendapatkan murid," ucap Nugraheni, saat ditemui di SDN Pendem, Selasa (14/7).

Guru Kelas 6 itu menjelaskan, SPMB 2026 SDN Pendem menyediakan 28 kursi atau satu rombel. Namun hingga ditutupnya SPMB tak ada stupun wali murid atau calon siswa yang mendaftar. Alhasil, saat tahun ajaran baru kelas 1 tak memiliki siswa baru.

--

Dampak penurunan jumlah murid dan tak adanya siswa di kelas satu membuat sekolah terdampak. Terutama penerimaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang selama ini bergantung dengan jumlah siswa. BOS dihitung Rp 900 ribu per siswa per tahun, yang disalurkan langsung ke sekolah. BOS biasanya digunakan untuk operasional sekolah. Misalnya membayar tagihan listrik, air, hingga perawatan gedung. Alhasil, pihak SDN Pendem perlu menghemat anggaran BOS agar semua tercukupi.

BOS yang minim, membuat program sekolah ikut terancam. Paling utama program ekstrakurikuler. SDN Pendem memiliki lebih dari tiga ekstrakurikuler. Mulai dari Pramuka hingga Bahasa Inggris. Penerimaan BOS yang turun, membuat sekolah perlu menyesuaikan program ekstrakurikuler.

Tak adanya kelas satu juga menyebabkan TPG bagi guru terancam. Terdapat tiga guru yang berhak mendapat TPG, tapi berpotensi tak cair. Diantaranya, guru kelas 1, guru olahraga, hingga guru agama. Penyebabnya, setiap guru memiliki minimal jam ajar 24 jam pelajaran dalam seminggu. Tak adanya satu kelas, membuat guru kekurangan jam ajar.

"Dengan kondisi ini, kami tetap menyelenggarakan layanan pendidikan sama seperti tahun sebelumnya dan lebih optimal lagi," ungkapnya.

Kendati menghadapi situasi yang sulit, pihak sekolah tetap menjamin layanan pendidikan terbaik bagi siswa-siswanya. SDN Pendem tak mau krisis siswa menjadi batu sandungan bagi hak anak untuk memperoleh pendidikan. Jika layanan pendidikan meningkat, pihak sekolah optimis akan banyak orangtua wali murid yang mempercayakan anaknya bersekolah di SDN Pendem. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
Krisis Siswa MPLS 2026 SD Negeri Pendem Kulon Progo MPLS 2026 Tanpa Siswa Penyebab Krisis Siswa SD Negeri Pendem