Pasar Tani Tumbaso berlangsung di halaman Jogja Agro Park (JAP) di Kalurahan Wijimulyo, Nanggulan, Kulon Progo. Pasar Tani Tumbaso ini juga mengenalkan JAP sebagai pusat pertanian di DIY. Sekaligus menghadirkan produk segar dan pangan berkualitas langsung dari petani.
“Wilayah sekitar JAP memiliki potensi pertanian yang cukup besar. Mulai dari pertanian pangan hingga hortikultura. Kalurahan Wijimulyo juga memiliki potensi lahan yang patut dikembangkan,” ujar Kepala DPKP DIY Aris Eko Nugroho di sela acara yang berlangsung pada Sabtu (11/7).
Baca Juga: Harga Kelapa Tak Menarik, Olahan Kopra Jadi Penyelamat Petani dan Pengepul
Di samping berbagai potensi itu, tak jauh dari lokasi JAP juga terdapat sekolah kejuruan yang memiliki jurusan pertanian. Menyadari potensi itu, instansinya berinisiatif menyelenggarakan Pasar Tumbaso. Halaman JAP disulap menjadi pasar dadakan. Ada 20 lapak dari pelaku UMKM, kelompok wanita tani (KWT) dan sekolah.
Di setiap lapak memamerkan hasil pertanian dan olahan pertanian. Tak hanya itu, ada juga yang menyajikan hasil panen. Salah satunya, nanas jumbo. Kemudian bibit tanaman hias. Pasar Tani Tumbaso juga memberikan ruang bagi petani dan pelaku UMKM bertemu langsung dengan pembeli. Ke depan, Pasar Tani Tumbaso bakal digelar sebulan sekali setiap hari Minggu.
Kegiatan ini ikut memberikan kesempatan bagi pengunjung menghabiskan waktu di JAP. Itu karena JAP memiliki beragam fungsi. Mulai edukasi, wisata, hingga pengembangan sektor pertanian. Tujuan awal JAP diperuntukan sebagai kawasan agribisnis dan agrowisata. Pengembangan selanjutnya, JAP menjadi pusat edukasi pertanian, inkubator agribisnis, dan pengembangan kewirausahaan.
Baca Juga: UMY Nonaktifkan Sementara Dosen Farmasi yang Diduga Lakukan Pelecehan terhadap Mahasiswanya
Aris berencana mengusulkan menjadi JAP sebagai badan layanan umum daerah (BLUD). Diakui, tantangan mengembangkan JAP ada pada regulasi. Pengelolaan JAP masih terbatas sebagai lembaga. Bukan BLUD. Sebagai lembaga, JAP memiliki keterbatasan mengelola keuangan. Bahkan jika terdapat tanaman yang mati, penggantian tanaman harus dilakukan di tahun selanjutnya. JAP sebenarnya telah membuka agromarket. Memamerkan hasil pertanian. Namun, tak bisa melakukan penjualan karena keterbatasan kewenangan.
Ikut hadir dalam acara itu Ketua Komisi B DPRD DIY Andriana Wulandari. Dia mengapresiasi digelarnya Pasar Tani Tumbaso. Dia menilai dengan adanya pasar tersebut memberikan ruang untuk mengangkat potensi pertanian. Konsumen yang dipertemukan langsung dengan petani turut mendapatkan manfaat. Sebab, harga yang ditawarkan dari petani jauh lebih murah dibandingkan harga pasaran. "Kami terus mengupayakan kemandirian fiskal daerah, salah satu caranya dengan mengoptimalkan pemanfaatan aset," ungkapnya.
Ndari, sapaan akrabnya, menjelaskan, JAP merupakan aset Pemda DIY yang berpotensi menjadi sumber pendapatan daerah. Optimalisasi aset daerah perlu dilakukan, mengingat keterbatasan anggaran. Sejauh ini, masalah utama pengelolaan JAP dengan orientasi pendapatan terletak dalam regulasi. Evaluasi ini akan menjadi bahasan komisi yang dipimpinnya dengan mitra kerja. “Kami ingin memastikan potensi pemanfaatan aset dapat optimal,” tandasnya. (gas/kus)
Editor : Sevtia Eka Novarita