KULON PROGO - Orang mengenal Patung Selamat Datang Bundaran HI, Patung Roro Jonggrang Istana Negara, hingga Patung Urip Soemohardjo sebagai landmark pembangunan di Indonesia.
Bagi keluarga Trubus Soedarsono, patung itu menjadi karya yang hingga kini bisa dilihat dan dikenang.
Karena hampir semua karya Trubus Soedarsono lenyap ditelan bumi, beserta sosok pelukis serta pematung itu. Keberadaannya tak diketahui hingga kini.
Di balik ruang sempit mengepul asap tebal dari sebuah rokok yang dinyalakan seorang pria paro baya.
Baca Juga: Harga Kelapa Tak Menarik, Olahan Kopra Jadi Penyelamat Petani dan Pengepul
Di hadapannya ada kanvas besar dan ada lantunan nyanyian dari pengamen yang menyanyikan beberapa kidung dan sajak.
Pria itu menghabiskan waktu berhari-hari menghadap kanvas dan cat pewarna untuk menggambarkan sosok perempuan dengan kebaya, serta memberikan kesan realis.
"Bapak kalau melukis sambil merokok asapnya mengepul, ada pengamen yang menyanyikan lagu, sehingga kalau melukis pasti berhari-hari," ucap Sri Sudaryati, anak kedua Trubus Soedarsono saat ditemui awak media di Taman Budaya Kulon Progo, Sabtu (11/7).
Sosok laki-laki itu adalah Trubus Soedarsono, seorang pelukis dan pematung kesayangan Presiden Soekarno.
Sosok yang lahir di Kapanewon Wates, tepatnya Padukuhan Sideman, pada 23 April 1926. Lahir dan besar dari keluarga petani, membuat Trubus tak memiliki privilege dalam memperoleh ilmu seni.
Gaya melukis justru didapat dari pembelajaran otodidak.
Hidup sebagai pelukis di zaman itu, tak membuatnya kaya raya. Namun, Trubus tetap menjalani pilihannya sebagai seniman di bidang lukis.
Masa kecilnya, dihabiskan dengan menggambar hingga seringkali menjadi dalang dalam acara sunatan kampung. Trubus yang beranjak remaja diduga sempat menerima bimbingan pelukis terkenal Afandi hingga Soedjono.
Baca Juga: Kandang Ayam Terbakar di Padureso Kebumen, Kerugian Capai Rp 750 Juta: Dugaan Awal Karena Ini
Tak sampai situ, Trubus sempat bergabung dalam pergerakan nasional yang membuatnya dipenjara pada tahun 1948. Lantaran, aktivitas politiknya yang membuat poster lukisan perlawanan terhadap Belanda.
Walau hanya lulusan Sekolah Rakyat (SR), dengan karyanya Trubus mendapat beasiswa belajar setahun di Amerika. Bekal akademik itu memastikan langkahnya menjadi dosen di Akademi seni Rupa Indonesia (ASRI), kini menjadi ISI Jogjakarta.
Pengajaran Trubus sebagai akademisi di sana, hingga kini masih terasa. Khususnya dalam pengembangan karya seni rupa naturalis dengan aliran realism.
Bahkan Trubus dianggap sebagai "Bapak Seni Rupa Modern". Karya seni buatannya mulai dikenal banyak orang, terutama lukisan yang kerap menghiasi Istana Negara.
Lukisan terpasang di Istana Negara membuat Trubus dikenal sebagai pelukis kesayangan Bung Karno. Hasil karya Trubus berupa patung juga banyak dikenal.
Mulai dari Patung Selamat Datang Bundaran HI, hingga Patung Urip Soemmohardjo di Magelang.
Tak hanya menggeluti bidang seni, Trubus sempat mencicipi dunia politik sebagai wakil rakyat dari PKI di DPRD DIJ.
Namun dari jejak politik itulah nama Trubus seakan lenyap ditelan bumi. Pecahnya G30S PKI membuat Trubus ikut terseret dalam pemberantasan orang-orang yang berhubungan dengan PKI.
"Saya masih teringat jelas, bapak ditangkap dan pamit ke saya sambil mengucapkan, 'sepertinya kita tidak bisa ketemu lagi," ucap Sri sambil mengenang masa-masa itu.
Saat itu, Sri masih duduk di bangku SLTA dan memiliki tujuh adik. Masih teringat jelas proses penangkapan dan pamitan bapaknya.
Baca Juga: Sampah Liar di Flyover Lempuyangan Dikeluhkan, Ini Kata Satpol PP Kota Jogja
Sejak kejadian itu, Sri tak pernah melihat Trubus. Bahkan untuk melihat ibunya, ia harus menunggu waktu beberapa lama. Lantaran, ibunya sempat dipenjara akibat tuduhan berhubungan dengan PKI.
Selama masa penjara itu, istri Trubus sempat melahirkan anak yang kini menjadi adik Sri. Total 10 anak Trubus yang hingga kini mencari keberadaan ayahnya.
Selama puluhan tahun, Sri bersama adiknya mencari sosok Trubus. Keluarga Trubus sempat mencoba mengirimkan surat ke berbagai barak militer yang diduga menampung tahanan PKI. Mulai dari Gunungkidul hingga Pulau Buru.
Semua upaya itu tak pernah memberikan hasil. Sosok Trubus seakan lenyap, hilang tanpa kabar beserta karya seninya.
Baca Juga: Bukan ke PSIM Jogja, Matheus Fornazari Dikabarkan Capai Kesepakatan dengan PSS Sleman
Karya seni yang tersimpan di dalam rumah pribadi, turut disita aparat selama penangkapan Trubus.
Hingga kini, Keluarga Trubus masih mempertanyakan hilangnya sosok pelukis dan pematung itu.
Semua kisah perjalanan dan kehilangan itu, terlukiskan dalam Pameran 100 Tahun Trubus Soedarsono + 100 Hari Pengabdian Sujarwo di Taman Budaya Kulon Progo.
Kurator Pameran Jajang Kawentar menjelaskan, kegiatan pameran mencoba mengangkat dua sosok seniman asal Bumi Binangun.
Di antaranya, Trubus Soedarsono sebagai bapak pelukis modern dan Sujarwo seniman dengan penuh pengabdian.
"Kami ingin mengenang kedua seniman ini, dan kami juga menonjolkan masalah sampah menjadi karya seni," ungkapnya.
Selain mengenang dua seniman itu, pameran mencoba mengangkat isu sampah di muara Sungai Serang. Banyak sampah organik dan nonorganik yang dijadikan karya seni.
Mulai patung, instalasi seni, hingga lukisan disajikan dalam pameran tersebut. (laz)
Editor : Herpri Kartun