Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemkab Kulon Progo Gelar Jamasan Agung 2026, Pusaka Keraton Hingga Kentongan Raksasa Dijamas

Anom Bagaskoro • Minggu, 12 Juli 2026 | 15:12 WIB
Wakil Bupati Kulon Progo mengguyurkan air ke pusaka tombak dan kentongan. (Foto: Anom Bagaskoro /Radar Jogja) 
Wakil Bupati Kulon Progo mengguyurkan air ke pusaka tombak dan kentongan. (Foto: Anom Bagaskoro /Radar Jogja) 

 KULON PROGO - Pemkab Kulon Progo kembali menggelar Jamasan Pusaka Agung, Sabtu (11/7). Jamasan bertempat di plengkung depan Rumah Dinas Bupati Kulon Progo itu, menghadirkan pusaka pemberian keraton hingga kentongan berukuran jumbo.

Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo Joko Mursito menjelaskan, jamasan agung merupakan kegiatan rutin untuk pelestarian budaya. Lantaran, pusaka atau sering disebut tosan aji merupakan hasil dari budaya dan warisan leluhur. Eksistensi warisan budaya itu harus dijaga dengan sejumlah kegiatan pelestarian.

"Tahun ini ada 2 pusaka dari Kasultanan dan kadipaten, ada juga 12 pusaka dari kapanewon," ucap Joko, Sabtu (11/7).

Joko menjelaskan, Pemkab Kulon Progo memiliki pusaka berupa tombak. Diantaranya, Pusaka Kanjeng Kyai Bantar Angin pemberian Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat dan Kanjeng Kyai Amiluhur pemberian Kadipaten Pakualaman. Kedua pusaka ini, menjadi saksi terbentuknya wilayah Kulon Progo.

Baca Juga: Mengenal dan Mengenang Pelukis Pematung Asal Wates Kulon Progo Dalam Pameran 100 Tahun Trubus Soedarsono

Selain dua pusaka utama, terdapat 12 pusaka yang turut dijamas. Pusaka tersebut berasal dari setiap kapanewon. Jamasan pusaka dimulai dengan mengarak pusaka dari Bale agung menuju depan Rumah Dinas Bupati. Arak-arakan itu, diikuti bergada daris etiap perwakilan kapanewon. Bergada berasal dari setiap kalurahan masing-masing kapanewon.

Setelah diarak, pusaka akan dikumpulkan dan menerima jamasan. Jamasan menggunakan mata air dari masing-masing wilayah. Selain air, jamasan menggunakan wewangian agar pusaka terhindar dari karat.

"Tahun ini, kami juga melakukan jamasan pada kentongan yang merupakan warisan budaya," ungkapnya.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, jamasan tahun ini menghadirkan kentongan berdiameter satu meter dengan panjang tiga meter. Kentongan berukuran jumbo itu, diklaim telah berumur ratusan tahun. Data Dinbud Kulon Progo memperlihatkan, kentongan Gora Bangsa tersebut telah terpasang jauh sebelum 1951. 

Baca Juga: Komunitas Lari Digandeng untuk Hidupkan UMKM di Kawasan Sumbu Filosofi Jogja 

Kentongan tersebut tersimpan dalam Pesanggrahan Bulurejo, Kalurahan Pengasih. Masyarkat sekitar percaya, ketika kentongan dipukul suaranya akan terdengar hingga pelosok Bumi Binangun. Kentongan tersebut masuk dalam jamasan, karena mempertimbangkan unsur sejarah.

Sementara itu, Ketua Dewan Musyawarah Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia Kulon Progo Trisno Raharjo menjelaskan, pihaknya dan pagyuban dipercaya melakukan tradisi jamasan. Menurutnya, jamasan merupakan upaya pelestarian pusaka peninggalan leluhur. Lantaran, pusaka dari leluhur harus dijaga.

"Sebenarnya tahapannya cukup panjang, hari ini kami ringkas saja," ungkapnya.

Jamasan pusaka sebenarnya memakan waktu cukup lama lebih dari seminggu. Jamasan diawali dengan pencelupan pusaka ke dalam air kelapa dan diamkan hingga beberapa hari. Tujuannya, untuk merontokkan sisa karat. Perlakuan khusu dilakukan, mengingat pusaka terbuat dari besi.

Baca Juga: Grand Finals FFNS 2026 Fall dan Pesta 9 Free Fire Hari Ini di Jogja, 12 Tim Terbaik Bertarung, Ada Wakil Lokal dan Festival Rakyat

Setelah dirontokkan sisa karat, pusaka kemudian akan dibersihkan kembali. Saat bulan Muharram atau Suro, upacara adat jamasan akan digelar dengan simbolisasi penyiraman air. Setelah itu, pusaka kemudian dikeringkan dan diberi wewangian. Tujuannya, agar besi awet dan terhindar dari karat. (gas)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Keraton #Jamasan Pusaka #Pemkab Kulon Progo #kentongan #jamasan