KULON PROGO - Sekolah Rakyat (SR) Kulon Progo di Kalurahan Gulurejo, Kapanewon Lendah segera beroperasional pertengahan Juli mendatang. Banyak dari orangtua yang telah rela anaknya bersekolah di sekolah sistem asrama itu. Alasannya, harapan agar pendidikan sang anak terjamin.
Salah satu orangtua Rini Puji Lestari, asal Kalurahan Sukoreno, Sentolo telah ikhlas merelakan anaknya untuk bersekolah di SR. Walau sempat muncul kekhawatiran, perempuan yang sehari-hari berjualan nasi di Jalan Wates Jogja ini, tetap merelakan putrinya yang bernama Briliant Auzee.
"Tentu khawatir karena tinggal di asrama, tapi ini demi pendidikan dan anak saya justru mau ke sana," ucap Rini, saat ditemui di warung kecilnya, Kamis (9/7).
Baca Juga: Tabrakan Beruntun Libatkan Enam Kendaraan di Jalan Magelang-Jogja, Lalu Lintas Sempat Lumpuh
Rini menjelaskan, informasi sekolah rakyat telah didengar melalui berita dan media sosial. Saat itu, suaminya sempat berbicara ke putrinya apakah mau bersekolah di SR. Sang anak yang baru lulus sekolah dasar itupun memberikan kemauannya untuk bersekolah di SR Kulon Progo.
Bak gayung bersambut, petugas dari Dinas Sosial PPPA Kulon Progo mendatangi warung milik Rini. Petugas itu, menawarkan agar putrinya bersekolah di SR. Lantaran, masuk kriteria desil satu hingga tiga. Kriteria desil satu hingga tiga itu, didasarkan atas penghasilan dan pengeluaran keluarga Rini.
Rini mengaku, dari usahanya berjualan nasi hanya mampu menghasilkan Rp 100 ribu per hari, belum termasuk bahan produksi. Tentu hal itulah yang menjadi pertimbangan petugas memasukkan putrinya ke siswa yang layak masuk SR.
"Ya demi pendidikan saja, semoga di SR dapat pendidikan yang layak," ungkapnya.
Puterinya yang hendak masuk SMP itu, lantas menerima tawaran masuk SR. Dengan tekad itu, Rini dan suaminya tak bisa berbuat banyak. Lantaran, mempertimbangkan aspek pendidikan yang akan didapat anaknya. Sekolah rakyat diharapkan mampu menjadi sekolah dengan kualitas pendidikan tinggi.
Selain itu, biaya sekolah reguler cukup menguras tabungan keluarga. Lantaran, harga seragam yang ditawarkan sekolah mencapai jutaan rupiah tak sebanding dengan penghasilan keluarga.
Seragam yang dibeli dari sekolah pun tak masih perlu dijahit, yang membutuhkan biaya tambahan. "Biaya beli seragam sudah mahal, belum ditambah biaya jahit," ungkapnya.
Rini mengaku, ada rasa khawatir menjelang anaknya nersekolah di SR Kulon Progo pada 13 Juli mendatang. Lantaran, sekolah rakyat memiliki pendidikan khusus condong semi militer.
Akan tetapi, pikiran positif masih terbesit di hatinya. Putrinya diharapkan menjadi perempuan yang mandiri, disiplin, dan memiliki ilmu dari pembelajaran SR. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo