KULON PROGO – Motif batik baru yang dikenalkan oleh Bupati dan Wakil Bupati Kulon Progo yang baru, Binangun Kertaraharja mulai dicari. Penyebabnya karena juga menjadi seragam sekolah bagi siswa di Kulon Progo.
Menjelang tahun ajaran baru 2026/2027, aktivitas Pasar Wates kembali menggeliat. Terutama pedagang busana yang menjajakan seragam sekolah hingga batik binangun untuk siswa.
Yami, pedagang busana di pelataran Pasar Wates mengatakan, seragam batik Binangun Kertaraharja turut diburu konsumen. Pasalnya, sekolah tak menyediakan pengadaan batik seragam.
Sekadar informasi motif batik Binangun Kertaraharja dan Songsong Agung Ngambar Arum dikenalkan oelh Bupati Agung dan Wabup Ambar sebagai pengganti batik geblek renteng yang sebelumnya menjadi batik khas Kulon Progo.
“Rerata harga seragam dibanderol Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu bergantung ukuran,” ungkapnya saat ditemui Radar Jogja, Selasa (7/7).
Dia mengaku, penjualan seragam sekolah naik lima kali lipat. Di hari biasanya, toko hanya mampu menjual 10 stel seragam. "Alhamdulillah penjualan naik, rata-rata 50 stel per hari," ungkapnya.
Baca Juga: Kecanduan Judol, Warga Garut Curi Motor di Halaman Masjid di Purworejo
Yami menyampaikan, penjulan seragam naik karena animo masyarakat cukup tinggi. Paslanya, pada tahun ajaran baru banyak siswa yang masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Akibatnya, orangtua perlu mencarikan seragam yang sesuai dengan jenjang pendidikan. Penjualan seragam terbanyak ada pada seragam merah putih untuk SD.
Kondisi itu juga menjadi angin segar bagi pedagang pasar tradisional yang selama ini diterpa perdagangan melalui online shop. Pemilik Toko Busana di dalam Pasar Wates Suparmi menjelaskan, biasanya kios busananya sepi tak ada pembeli.
Penurunan jumlah pembeli, terjadi sejak pandemi covid-19. Selama itu pula, pembeli mulai beralih ke platform online shop. "Sejak covid sepi pembeli, kecuali momen-momen tertentu seperti tahun ajaran baru," ucap Suparmi.
Baca Juga: Big Bike New Rebel 1100, Simbol Kebebasan Ekspresi Generasi Modern
Suparmi menjelaskan, momen tahun ajaran baru menjadi waktu yang tepat untuk menambal kerugian tahunan. Pada tahun ajaran baru ini, ia mampu menjual tiga stel seragam sekolah untuk siswa SD hingga SMP. Termasuk penjualan batik Binangun yang kini mulai efektif diberlakukan pada siswa baru. Suparmi mampu menjual, lima stel batik binangun.
Kendati tak mencapai puluhan stel penjualan, dirinya tetap bersyukur. Pasalnya, di hari biasa ia tak mampu menjual seragam atau busana lain. Lantaran, banyak pembeli beralih mencari busana melalui marketplace.
Bertahannya konsumen seragam sekolah dinilai akibat kebijakan larangan pengadaan pakaian oleh sekolah. Di samping itu, konsumen lebih puas apabila membeli seragam langsung ke toko. Terutama orangtua siswa yang anaknya masuk ke jenjang SD dan kesulitan memilih ukuran. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo