Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Minim Jumlah Lulusan, Sekolah di Perbukitan Menoreh Harus Berebut Siswa

Anom Bagaskoro • Minggu, 5 Juli 2026 | 15:51 WIB
PULANG: Siswa SDN Kokap bersalaman dengan guru untuk berpamitan pulang - ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA
PULANG: Siswa SDN Kokap bersalaman dengan guru untuk berpamitan pulang - ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA

KULON PROGO - Sektor Pendidikan di Bumi Binangun sedang menghadapi fenomena krisis siswa. Lantaran, minimnya jumlah lulusan pada jenjang TK hingga SD. Terutama sekolah-sekolah yang terletak di Perbukitan Menoreh, yang harus berebut siswa.

Kepala Sekolah SD Negeri Kokap Surohim menjelaskan, sekolahnya mengalami krisis siswa selama dua tahun terakhir. Kondisi ini juga berlaku pada sekolah lain, di wilayah perbukitan.

Penyebab krisis siswa diduga akibat kurangnya jumlah lulusan. Terutama lulusan TK untuk jenjang SD dan lulusan SD untuk jenjang SMP.

"Sudah ada 17 pendaftar yang kesini, tentu kami telah berupaya maksimal," ucap Surohim, Minggu (5/7).

Surohim menjelaskan, untuk mendapatkan belasan pendaftar butuh upaya besar. Lantaran, TK terdekat hanya meluluskan enam siswa. Membuat guru hingga manajemen sekolah perlu melakukan sosialisasi ke TK lain. Tujuannya menggaet minat siswa dan orangtua. Sekitar lima TK mendapat sosialisasi, dengan target siswa yang mendaftar 15 orang.

Fenomena mencari siswa atau berebut siswa ini telah terjadi selama beberapa tahun terakhir. Pada masa jayanya, SDN Kokap sempat menerima 28 siswa. Namun belakangan ini hanya menerima belasan siswa. Hal ini dipengaruhi faktor demografis jumlah lulusan.

Baca Juga: APBD Jateng Dipuji Kemenkeu, Ahmad Luthfi Ungkap Strategi Jaga Kinerja Fiskal

"Maksimal satu rombel 28 siswa, tapi idealnya satu rombel 20 siswa," ucapnya.

Idealnya, pelayanan pendidikan dapat optimal apabila dalam satu rombongan belajar (rombel) berisi 20 hingga 28 siswa. Jumlah siswa juga berpengaruh pada penerimaan BOS yang didapat sekolah.

Pada jenjang SD, nominal BOS yang didapat sekolah mencapai Rp 900 ribu per siswa. BOS biasanya digunakan untuk operasional sekolah, diantaranya membiayai listrik, air, internet, hingga pengembangan ekstrakurikuler.

Selain berpengaruh ke operasional, pendidikan karakter siswa akan terancam. Lantaran, pendidikan karakter siswa berasal dari hasil komunikasi antar siswa di lingkungan sekolah. Jika sekolah minim siswa, maka jalin komunikasi dengan siswa tak optimal.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulon Progo Nur Wahyudi membenarkan krisis siswa disebabkan minimnya jumlah lulusan. Fenomena ini terjadi di dua kapanewon, yaitu Samigaluh dan Girimulyo, dengan keterisian sekolah mencapai 50 persen.

Baca Juga: 20 Portal Dipasang di 13 Sirip Malioboro, Pemprov DIY Siapkan Rp 230 Juta untuk Dukung Full Pedestarian

"Memang daerah perbukitan sedang mengalami penurunan jumlah lulusan, efek demografi," ungkapnya. (gas)

Editor : Bahana.
#sekolah kekurangan siswa #Perbukitan Menoreh #Kulon Progo