Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menilik Festival Layang-Layang di Kulon Progo, Tak Hanya Sekedar Kompetisi Tapi Fokus Edukasi Pelayang

Anom Bagaskoro • Minggu, 5 Juli 2026 | 15:26 WIB
SAFETY: Peserta festival layang-layang mencoba menerbangkan layang-layang tipe train dragon - ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA
SAFETY: Peserta festival layang-layang mencoba menerbangkan layang-layang tipe train dragon - ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA

KULON PROGO - Festival layang-layang yang bertajuk Road to Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 telah resmi digelar sejak 4-5 Juli 2026 di barat Jembatan Kabanaran. Kegiatan bagi penghobi layang-layang ini, berfokus pada edukasi pelayang lokal.

Ketua Panitia JIKF Anang Sarjiyanto menjelaskan,  road to JIKF bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kulon Progo. Langkah ini, diambil mengingat potensi dari JIKF dapat menarik pariwisata di daerah. Sekaligus memicu perputaran ekonomi di sekitar lokasi.

"Total ada 30 klub yang akan bertanding, 17 klub diantaranya berasal dari luar negeri," ucap Anang, saat ditemui Radar Jogja, Minggu (5/7).

Anang menjelaskan, setiap klub biasanya menerjunkan dua sampai tiga layang-layang. Sehingga, partisipasi layang-layang akan lebih dari 30 buah.

Baca Juga: Tak Terkalahkan dalam 34 Pertandingan, Maroko Layak Menjadi Kandidat Juara Piala Dunia?

Dalam kompetisi road to JIKF, terbagi menjadi dua kategori, yaitu dewasa dan anak-anak. Kategori dewasa melombakan jenis layang-layang tradisional, kreasi, hingga train dragon. Sedangkan kategori anak-anak, hanya melombakan jenis layang-layang train dragon.

Perlombaan layang-layang akan dinilai oleh juri profesional. Penilaian meliputi, estetika, kerjasama, hingga etika pelayang. Juri akan menilai layang-layang sebelum diterbangkan. Saat prosesi penerbangan, juri juga akan menilai faktor safety kiting. Hal ini menjadi fokus panitia, mengingat banyak pelayang yang abai akan faktor keamanan.

"Fokus kami tidak hanya kompetisi, tapi edukasi, karena banyak pelayang yang nekat naik layang-layang," ungkapnya.

Anang menjelaskan, pihaknya sering menemukan pelayang lokal dengan jenis layang-layang train dragon yang menunggangi layangannya. Layang-layang jenis ini, memang kuat untuk mengangkat beban lebih dari puluhan kilogram. Namun, sangat berbahaya jika pelayang nekat melakukannya. Lantaran, layang-layang tidak stabil dan dapat melukai pelayang.

Baca Juga: Belajar dari Kasus Uang Rob Rp1,54 Miliar di Batang: Ini Syarat dan 2 Cara Tukar Uang Rusak ke Bank Indonesia

Edukasi lain juga berkaitan dengan, bahaya bermain layang-layang di jalur sutet hingga area dekat bandara. Untuk menggelar acara, panitia sengaja mencari lokasi jauh dari sutet dan bukan kawasan penerbangan. Kendati jauh dari kedua tempat itu, pihaknya menggandeng PLN dan Airnav. Tujuannya, ikut serta memberikan edukasi ke pelayang.

Sementara itu, Ketua Tim Layang-Layang Grasesa Caesar Arya Gautama menjelaskan, timnya bersal dari Bantul. Timnya mengikuti kategori anak-anak jenis train dragon. Satu buah layangan jenis train dragon dengan diameter satu meter dan panjang 80 meter disiapkan dalam perlombaan.

"Persiapannya empat bulan lalu, karena bentuk tran dragon cukup sulit dibuat," ungkapnya.

Pembuatan layang-layang jenis train dragon dikalim lebih sulit. Pasalnya, bentuk kepala menyerupai kepala naga perlu dibuat semirip mungkin. Sedangkan ekornya dibuat dari cakram kain yang disambung.

Baca Juga: Stale Solbakken Tegaskan Hormati Carlo Ancelotti, Siap Tantang Brasil di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026

Pembuatan layang-layang ini, harus mempertimbangkan unsur keindahan. Lantaran, layang-layang train dragon saat diterbangkan akan meliuk-liuk di udara. Total anggaran untuk membuat layang-layang ini mencapai Rp 5 juta. (gas)

Editor : Bahana.
#festival layang layang #Kulon Progo