KULON PROGO - Selain krisis guru, dunia pendidikan di Bumi Binangun juga banyak sekolah kekurangan murid.
Salah satunya di SMP Negeri 4 Pengasih yang tahun ini hanya memperoleh lima siswa dari sistem penerimaan murid baru (SPMB) 2026.
Kondisi ini membuat program sekolah hingga tunjangan profesi guru (TPG) terancam.
Kepala Sekolah SMPN 4 Pengasih Rahmi Atiningrum menjelaskan, hasil SPMB 2026 sekolahnya minim pendaftar.
Baca Juga: Sukseskan Sejumlah Program Nasional, Pratikno Blak-blakan Minta Bantuan HB X
Hanya ada lima pendaftar, dan baru tiga calon siswa yang melakukan pendaftaran ulang.
Tiga pendaftar itu menggunakan jalur domisili.
"Sebelumnya kami telah melakukan sosialisasi ke beberapa sekolah terdekat, tetapi masih minim pendaftar," ucap Rahmi, saat ditemui di kantornya, Jumat (3/7/2026).
Rahmi menjelaskan, upaya menggaet siswa telah dilakukan beberapa bulan sebelum pembukaan SPMB.
Salah satu caranya melakukan sosialisasi secara door to door ke sekolah.
Ironisnya, cara ini tak mampu meningkatkan jumlah pendaftar.
Bahkan salah satu SD terdekat, tak satupun masuk ke SMPN 4 Pengasih.
Jumlah pendaftar SPMB 2026 yang minim, membuat banyak kursi kosong di sekolah ini.
Padahal SPMB 2026 SMPN 4 Pengasih menyediakan dua rombel dengan total 64 kursi.
Setiap angkatan berisi dua rombel, sehingga totalnya 192 kursi.
Lantaran, hanya terdapat 51 siswa dan 5 pendaftar siswa baru yang terbagi dalam tiga kelas.
Jumlah siswa yang minim ini mempengaruhi penerimaan bantuan operasional sekolah (BOS).
Penyaluran BOS dipengaruhi jumlah siswa dalam satuan pendidikan.
Semakin banyak siswa, maka banyak pula jumlah penerimaan BOS.
Penyaluran BOS ke sekolah dihitung Rp 1,16 juta per siswa.
Baca Juga: Sidang Praperadilan Raudi Akmal Dijadwalkan 20 Juli, Hakim Wajib Putus dalam Tujuh Hari
Nominal BOS, ini disalurkan ke rekening sekolah langsung.
Sekolah penerima, dapat memanfaatkan BOS untuk operasional sekolah.
Misalnya, membayar tagihan listrik, air, hingga internet.
Peremajaan bangunan sekolah biasanya juga menggunakan anggaran BOS walau hanya sebagian.
Jumlah siswa yang sedikit, membuat SMPN 4 Pengasih terancam tak bisa mengembangkan program sekolah.
Selain tertekan pada operasional sekolah, program sekolah seperti ekstrakurikuler terancam.
Baca Juga: SPMB SMPN di Kulon Progo Kekurangan Murid, Disdikpora Kulon Progo Jelaskan Penyebabnya!
"Jumlah siswa yang kurang juga berpengaruh pada TPG guru disini," ungkapnya.
Selain pengurangan BOS, tunjangan profesi guru (TPG) ikut terancam.
Lantaran, TPG dihitung berdasarkan jumlah jam ajar minimal 24 jam pelajaran per minggu.
Untuk memenuhi jam pelajaran, idealnya SMPN 4 Pengasih memiliki empat rombel.
Namun pada tahun ajaran 2026/2027 nanti, hanya ada tiga rombel yaitu kelas 7,8, dan 9.
TPG yang terancam juga dipengaruhi oleh kebijakan larangan guru menambah jam ajar ke sekolah lain.
Di SMPN 4 Pengasih, terdapat satu mata pelajaran yang berisikan dua guru.
Salah satu guru ini, nantinya akan terancam tak memiliki TPG.
Pihak sekolah sebenarnya telah mengupayakan beragam skema agar hak TPG dapat dicairkan.
"Ada beberapa skema yang dapat dilakukan, tambah jam menjadi wakil kepala sekolah hingga kepala perpustakaan tapi semua sudah terisi," ungkapnya.
Menghadapi krisis siswa hingga program sekolah yang terancam pihaknya berencana konsultasi dengan Disdikpora Kulon Progo.
Sebelum konsultasi, lebih dulu dilakukan evaluasi hasil SPMB.
Tujuannya, untuk perbaikan SPMB tahun selanjutnya. (gas)