KULON PROGO - Sebulan terakhir, peternak ayam petelur mengalami pukulan besar. Pasalnya, harga telur anjlok drastis hingga membuat peternak menelan kerugian. Jika terus terjadi peternak terancam gulung tikar.
"Sebulan terakhir penurunan cukup drastis, harga telur hanya Rp 19 ribu dari peternak," ucap peternak ayam petelur di Kalurahan Banyuroto Nanggulan Eko Sugiarto, saat ditemui Radar Jogja di kandang ternaknya, Kamis (2/7).
Eko menjelaskan, sehari sebelumnya harga telur mencapai titik terendah Rp 18 ribu per kilogram dari peternak. Kondisi ini memicu harga pasaran telur anjlok drastis di kisaran Rp 21 ribu hingga Rp 22 ribu.
Penurunan harga telur diduga akibat melimpahnya stok dari peternak. Sedangkan serapan pasar tetap sama, dan justru turun akibat program MBG libur.
Harga telur Rp 21 ribu dinilainya sebagai harga yang sesuai daya beli masyarakat. Lantaran, harga tersebut membuat pola pembelian telur bertambah drastis. Hal ini terlihat pada serapan telur di tingkat pasar. Saat harga telur dibawah Rp 25 ribu, peminat telur naik drastis.
Walau harga sesuai daya beli masyarakat, harga telur di bawah Rp 25 ribu, justru mencekik peternak. Pasalnya, harga pokok produksi (HPP) telur berkisar Rp 25.500 per kilogram untuk skala peternak kecil dan menengah. Sedangkan skala industri berkisar Rp 26.500 per kilogram.
"Kami rugi kalau harga segitu, ditambah harga pakan semakin naik," ucapnya.
Di 2025, HPP telur berkisar Rp 24 ribu. Namun, mengalami peningkatan akibat harga pakan yang melonjak di tahun 2026. Untuk peternak skala menengah ke bawah, mereka memilih menggunakan pakan campuran nonpelet. Tujuannya memangkas harga kebutuhan pakan.
Eko menjelaskan, pakan campuran sengaja dipilih untuk menghemat biaya operasional dan menurunkan HPP. Namun, cara ini tak efektif jika bahan baku pakan tetap mengalami kenaikan. Pakan campuran biasanya berasal dari perbandingan 1 dedak, 2 konsentrat, dan 3 jagung.
Harga dedak relatif stabil, namun harga jagung dan konsentrat mengalami kenaikan. "Harga jagung naik, karena konsumsi peternak banyak sedangkan hasil panen sedikit," ungkapnya.
Harga telur yang turun, sedangkan harga pakan naik membuat peternak mulai makan tabungan. Pasalnya, sudah tiga bulan peternak mengalami kerugian ditambah melonjaknya harga. Fenomena ini tak sama seperti tahun sebelumnya. Lantaran, di tahun sebelumnya harga pakan stabil, dan penyebab penurunan harga bukan karena melimpahnya panen.
Kepala Bidang Produksi dan Pengembangan Usaha Peternakan Dispertapa Kulon Progo Bambang Dwi menjelaskan, penurunan harga telur tidak disebabkan oleh populasi ayam petelur yang melimpah di Kulon Progo. Lantaran, populasi ayam petelur di Kulon Progo hanya di angka 1 sampai 2 juta ekor.
Baca Juga: Hyundai New CRETA Andalkan Kenyamanan Kabin untuk Menjawab Kebutuhan Pengguna SUV
Hal ini dipengaruhi pola budidaya ayam petelur yang masih skala menengah ke bawah. Mayoritas peternak di Kulon Progo hanya memelihara ayam petelur di bawah 10 ribu ekor. Sehingga, jumlah produksi telur lokal selalu stabil setiap harinya.
Dia menduga harga telur yang anjlok disebabkan pola konsumsi masyarakat yang rendah. Di bulan Suro pada penanggalan Jawa, banyak masyarakat yang tak mengadakan hajatan. Hal ini membuat konsumsi telur mengalami penurunan drastis. Di samping itu, liburnya program MBG menjadi penyebab tambahan penurunan tingkat konsumsi telur. Konsumsi rendah dengan panen yang stabil membuat harga anjlok drastis.
Analis Pasar Hasil Pertanian Dispertapa Kulon Progo Sukamto menyampaikan, peternak ayam petelur memang sedang terdesak. Pasalnya, HPP produksi mengalami kenaikan akibat lonjakan harga pakan.
Baca Juga: Suhu Terdingin Bisa Capai 17 Derajat Celcius, BMKG Ingatkan Bahaya Hipotermia
Mulai dari harga konsentrat yang naik akibat melemahnya rupiah, hingga harga jagung dari petani yang melonjak. "Bahan baku konsentrat dari impor sangat bergantung pada dolar, sedangkan untuk jagung tidak ada impor," ungkapnya.
Kebanyakan peternak di Kulon Progo menghindari pakan pelet untuk mengurangi HPP. Namun, cara ini tak efektif ketika harga bahan baku melonjak. Paling mencolok harga jagung yang melonjak drastis, akibat kebijakan larangan impor jagung oleh pemerintah pusat.
Kebijakan ini membuat sumber jagung di Indonesia berasal dari lokal dan bergantung pada hasil panen. Harga jagung sesuai peraturan pemerintah Rp 5.500 per kilogram, namun kini telah menyentuh Ro 6.500. Hal ini dipengaruhi kurangnya pasokan jagung ke peternak. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo