KULON PROGO - Penurunan harga telur selama beberapa bulan terakhir, membuat sejumlah peternak di Kulon Progo terancam gulung tikar.
Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapa) Kulon Progo memastikan penurunan harga telur bukan disebabkan over populasi ayam petelur.
Kepala Bidang Produksi dan Pengembangan Usaha Peternakan Dispertapa Kulon Progo Bambang Dwi menyampaikan, harga telur di tingkat peternak mengalami penurunan.
Selain komoditas telur, harga ayam potong juga mengalami penurunan drastis.
"Harga dari peternak untuk telur, kisaran Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu," ucap Bambang, Kamis (2/7/2026).
Baca Juga: Kulon Progo Bakal Miliki PLTS 50 Megawatt, Investasi Asing Diperkirakan Mencapai 32 Juta Dolar
Bambang menjelaskan, penurunan harga telur tidak disebabkan oleh populasi ayam petelur yang melimpah di Kulon Progo.
Disebutkan, populasi ayam petelur pada 2026, mencapai 1.880.000 ekor.
Jumlah lebih kecil apabila dibandingkan dengan tahun 2025 yang mencapai 2.094.000 ekor.
Lantaran, populasi ayam petelur di Kulon Progo hanya di angka 1 sampai 2 juta ekor.
Hal ini dipengaruhi pola budidaya ayam petelur yang masih skala menengah ke bawah.
Mayoritas peternak di Kulon Progo hanya memelihara ayam petelur di bawah 10 ribu ekor.
Sehingga, jumlah produksi telur lokal selalu stabil setiap harinya.
Pihaknya menduga harga telur yang anjlok disebabkan pola konsumsi masyarakat yang rendah.
Di bulan Suro pada penanggalan Jawa, banyak masyarakat yang tak mengadakan hajatan.
Hal ini membuat konsumsi telur mengalami penurunan drastis.
Di samping itu, liburnya program MBG menjadi penyebab tambahan penurunan tingkat konsumsi telur.
Konsumsi rendah dengan panen yang stabil membuat harga anjlok drastis.
Di samping itu, pasar telur Kulon Progo sangat dipengaruhi harga dari luar.
Lantaran, kebanyakan peternak Kulon Progo menjual telur ke luar daerah.
Baca Juga: Raudi Akmal Tempuh Upaya Praperadilan, Tolak Status Tersangka dan Protes Penggledahan Rumahnya
Sehingga, harga otomatis mengikuti harga luar pasar. Kebanyakan pedagang menjual telur keluar, karena daya beli dan serapan lokal masih rendah.
"Tidak mungkin terserap semua di Kulon Progo, pasti hasil panen ke luar," ungkapnya.
Pihaknya turut prihatin dengan kondisi yang menimpa dunia peternakan saat ini.
Lantaran, harga komoditas mengalami penurunan, padahal harga pakan mengalami kenaikan.
Menurutnya, peternak Kulon Progo tetap bisa bertahan dengan kondisi ini selama beberapa bulan ke depan. Namun potensi gulung tikar usaha peternakan bakal terjadi.
Jalan untuk bertahan di usaha peternakan ayam petelur terletak pada kekuatan modal.
Jika memiliki modal terbatas, peternak dapat menerapkan penurunan biaya operasional.
Mulai dari mengurangi populasi dengan menjual ayam yang belum masuk kategori umur afkir.
Pengurangan populasi dapat menurunkan biaya pakan.
Tujuannya, agar peternak dapat bertahan hingga kondisi kembali seperti semula.
Lebih lengkap, Analis Pasar Hasil Pertanian Dispertapa Kulon Progo Sukamto menyampaikan, peternak ayam petelur memang sedang terdesak.
Pasalnya, harga pokok produksi (HPP) produksi mengalami kenaikan akibat lonjakan harga pakan.
Mulai dari harga konsentrat yang naik akibat melemahnya rupiah, hingga harga jagung dari petani yang melonjak.
"Bahan baku konsentrat dari impor sangat bergantung pada dolar, sedangkan untuk jagung tidak ada impor," ungkapnya.
Kebanyakan peternak di Kulon Progo menghindari pakan pelet untuk mengurangi HPP.
Namun, cara ini tak efektif ketika harga bahan baku melonjak.
Paling mencolok harga jagung yang melonjak drastis, akibat kebijakan larangan impor jagung oleh pemerintah pusat.
Kebijakan ini membuat sumber jagung di Indonesia berasal dari lokal dan bergantung pada hasil panen.
Harga jagung sesuai peraturan pemerintah Rp 5.500 per kilogram, namun kini telah menyentuh Ro 6.500. Hal ini dipengaruhi kurangnya pasokan jagung ke peternak. (gas)