KULON PROGO - Sebulan terakhir, peternak ayam petelur di Kulon Progo mengalami pukulan besar.
Pasalnya, harga telur anjlok drastis hingga membuat peternak menelan kerugian.
Jika terus terjadi peternak terancam gulung tikar.
Peternak ayam petelur di Kalurahan Banyuroto Nanggulan Eko Sugiarto menjelaskan, penurunan harga telur telah terjadi selama tiga bulan terkahir.
Namun, dampak paling terasa mulai sebulan terakhir.
Baca Juga: Singapura Sita Rumah Mewah Senilai Rp740 Miliar dalam Kasus Dugaan Penyelundupan Chip AI Nvidia
"Sebulan terakhir penurunan cukup drastis, harga telur hanya Rp 19 ribu dari peternak," ucap Eko, saat ditemui Radar Jogja di kandang ternaknya, Kamis (2/7/2026).
Eko menjelaskan, sehari sebelumnya harga telur mencapai titik terendah Rp 18 ribu per kilogram dari peternak.
Kondisi ini memicu harga pasaran telur anjlok drastis di kisaran Rp 21 ribu hingga Rp 22 ribu.
Penurunan harga telur diduga akibat melimpahnya stok dari peternak.
Sedangkan serapan pasar tetap sama, dan justru turun akibat program MBG libur.
Baca Juga: Jogja Last Friday Ride JLFR Keluarkan Pernyataan Sikap, Terbuka Terhadap Evaluasi dan Perbaikan
Menurutnya, harga telur Rp 21 ribu dinilai sebagai harga yang sesuai daya beli masyarakat.
Lantaran, harga tersebut membuat pola pembelian telur bertambah drastis.
Hal ini terlihat pada serapan telur di tingkat pasar.
Saat harga telur dibawah Rp 25 ribu, peminat telur naik drastis.
Walau harga sesuai daya beli masyarakat, harga telur di bawah Rp 25 ribu, justru mencekik peternak.
Pasalnya, harga pokok produksi (HPP) telur berkisar Rp 25.500 per kilogram untuk skala peternak kecil dan menengah.
Sedangkan skala industri berkisar Rp 26.500 per kilogram.
"Kami rugi kalau harga segitu, ditambah harga pakan semakin naik," ucapnya.
Di tahun 2025, HPP telur berkisar Rp 24 ribu.
Namun, mengalami peningkatan akibat harga pakan yang melonjak di tahun 2026.
Untuk peternak skala menengah ke bawah, mereka memilih menggunakan pakan campuran non pelet.
Tujuannya memangkas harga kebutuhan pakan.
Eko menjelaskan, pakan campuran sengaja dipilih untuk menghemat biaya operasional dan menurunkan HPP.
Namun, cara ini tak efektif jika bahan baku pakan tetap mengalami kenaikan.
Pakan campuran biasanya berasal dari perbandingan 1 dedak, 2 konsentrat, dan 3 jagung.
Harga dedak relatif stabil, namun harga jagung dan konsentrat mengalami kenaikan.
"Harga jagung naik, karena konsumsi peternak banyak sedangkan hasil panen sedikit," ungkapnya.
Kenaikan harga bahan baku pakan ternak dipengaruhi jumlah panen jagung yang relatif stabil.
Padahal jumlah populasi ayam naik, akibat banyaknya peternak baru.
Di samping itu, harga konsentrat mengalami kenaikan akibat menguatnya dolar.
Harga telur yang turun, sedangkan harga pakan naik membuat peternak mulai makan tabungan.
Pasalnya, sudah tiga bulan peternak mengalami kerugian ditambah melonjaknya harga.
Fenomena ini tak sama seperti tahun sebelumnya.
Lantaran, di tahun sebelumnya harga pakan stabil, dan penyebab penurunan harga bukan karena melimpahnya panen.
Penurunan harga diprediksi bakal terjadi hingga tiga bulan ke depan.
Pasalnya, tanda-tanda kenaikan harga yang sering dilihat peternak belum ditemukan.
Semakin lama penurunan harga terjadi, peternak akan terancam gulung tikar. Terutama peternak baru dengan modal terbatas.
Baca Juga: Mengenal Dawn Labs AI: Platform AI untuk Strategi Trading Crypto yang Semakin Populer
Sementara itu, pedagang sembako Pasar Wates Amios Jalu menyampaikan, sejumlah komoditas bapok mengalami penurunan.
Paling mencolok sayur dan telur ayam negeri. Telur ayam negeri mengalami penurunan dari Rp 25 ribu menjadi Rp 21 ribu.
"Ini harga telur langsung anjlok semenjak MBG libur," ungkapnya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva