KULON PROGO - Kadipaten Pukualaman kembali menggelar labuhan di Pantai Glagah, Jumat (26/6/2026).
Tradisi ini diiringi kirab dan disambut semarak dan antusias masyarakat.
Pangarsa Panyarikan Kapanitran KMT Sestrodiprojo menjelaskan, Labuhan Kadipaten Pakualaman digelar dalam rangkaian Hadeging Kadipaten.
Baca Juga: Gelar Malam Renungan, BNN Kabupaten Sleman Ajak Generasi Muda Bentengi Diri dari Narkoba
Tradisi ini telah dilaksanakan dan dilestarikan sejak kepemimpinan Pakualam II.
Selama itu pula, pelaksanaan selalu digelar pada tanggal 10 Muharam atau 10 Suro penanggalan Jawa.
"Prosesinya hampir sama seperti tahun sebelumnya," ucap KMT Sestro, saat ditemui Radar Jogja, Jumat (26/6/2026).
Rangkaian acara labuhan, diawali dengan kirab dengan membawa gunungan dari Pesanggrahan Kadipaten Pakualaman menuju Pesisir Barat Pantai Glagah.
Jarak tempuh kirab sekitar 2 km atau memakan waktu sekitar 1,5 jam.
Baca Juga: Pemprov DIY Petakan Calon Asisten Sekprov, Enam Kepala OPD Telah Ikuti Assessment Center
Kirab diawali dengan Bregada Lombok Abang, dengan diikuti bregada membawa 4 gunungan.
Di antaranya gunungan yang berisi hasil bumi, hasil panen, jajanan pasar, serta gunungan sukerto milik Sri Paduka Pakualam ke-10.
Dibelakang gunungan diikuti bregada dengan iringan musik khas keraton.
Dan selanjutnya barisan terakhir diikuti masyarakat sekitar.
Dari empat gunungan itu, satu gunungan berisikan pakaian akan dilarung ke dalam laut.
Tim SAR Pantai Glagah ditugaskan untuk membawa pakaian ke tengah laut agar tak kembali.
Sedangkan gunungan hasil bumi dan jajanan pasar dibawa ke bibir pantai.
Masyarakat diperbolehkan memperebutkan atau mengambil gunungan tersebut.
"Filosofi dari labuhan adalah bentuk rasa syukur dan menjaga keseimbangan alam diwujudkan dengan gunungan hasil bumi," ucapnya.
Gunungan hasil bumi memberikan filosofi keseimbangan alam.
Padi, sayur-mayur hingga jajanan pasar merupakan komoditas yang dihasilkan melalui proses alam.
Sehingga, rasa syukur diwujudkan melalui labuhan untuk menjaga keseimbangan yang ada.
Labuhan Kadipaten Pakualaman seakan menjadi magnet wisatawan.
Lantaran, labuhan difokuskan di Pantai Glagah.
Bahkan wisatawan yang berkunjung, ikut berebut gunungan hasil bumi.
Salah satunya, wisatawan asal Purworejo Ari Saputro sengaja datang ke Pantai Glagah saat labuhan.
"Sengaja kesini sekaligus liburan, ternyata ramai sekali," ucap Ari.
Ari menjelaskan, keseruan dari labuhan tak hanya dilihat dari tradisi.
Melainkan dari sisi rayahan (memperebutkan) gunungan.
Gunungan berisi hasil bumi diperbolehkan untuk direbut saat telah menyentuh air.
Baca Juga: Sering Jadi Tren Hobi, 5 Manfaat Mendaki Gunung untuk Kesehatan Fisik dan Mental
Saat itulah, warga berkutat dengan ombak sambil tetap mengambil hasil bumi.
Hal serupa juga diungkapkan, Cahyo Nugroho asal Kalurahan Karangwuni.
Ia sengaja ikut merebut hasil bumi dan memperoleh kacang panjang hingga buah-buahan.
"Melestarikan tradisi, dan prosesinya syarat makna kita berdoa yang terbaik," ungkapnya.
Menurutnya, labuhan merupakan wujudu syukur atas hasil selama setahun terakhir.
Di samping itu, merupakan wujud doa agar di tahun selanjutnya hasil panen dapat meningkat.
Bagi masyarakat sepertinya, momen labuhan merupakan wujud ngalap berkah atau mencari berkah yang memiliki filosofi keseimbangan alam. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva