KULON PROGO - Menjaga nyala listrik untuk warga Padukuhan Kedungrong, Kalurahan Purwoharjo, Kapanewon Samigaluh, Kulon Progo sudah menjadi tugas sehari-hari Rejo Handoyo.
Sebagai teknisi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Kedungrong tugasnya memastikan aliran air ke turbin lancar.
Sehingga produksi listrik tetap terjaga.
"PLTMH (Padukuhan Kedungrong, Red) memanfaatkan aliran air Saluran Irigasi Induk Kalibawang untuk memutar turbin," jelas Rejo Handoyo kepada Radar Jogja, Senin (22/6/2026).
Skemanya, aliran air diarahkan ke rumah pembangkit melalui selokan.
Debit air harus dibatasi agar tak mengganggu arah aliran irigasi untuk pertanian.
Saluran Irigasi Kalibawang memiliki debit 7.500 meter kubik.
Sedangkan yang masuk ke rumah pembangkit hanya berkisar 800 hingga 1.500 liter per detik.
Sebelum memasuki rumah pembangkit, debit air akan dikontrol melalui pintu air.
Tujuannya, untuk mengoptimalkan tekanan air yang masuk ke turbin pembangkit.
Aliran air yang terkontrol lantas menabrak bilah turbin, sekaligus memutar turbi.
Gaya dari tabrakan air itu, berubah menjadi gaya gerak mekanik yang digunakan untuk menghasilkan tenaga listrik.
Perjalanan listrik terbarukan, berlanjut ke panel kontrol distribusi.
Tegangan yang dihasilkan turbin mikro hidro biasanya sering naik turun, bergantung dengan debit.
Oleh karena itu, kelebihan tegangan produksi akan dialihkan ke fasilitas ballast.
Sedangkan, kebutuhan listrik pengguna langsung di transfer ke pelanggan melalui jaringan listrik.
"Kami punya dua generator, satu model terbaru yang lebih stabil dan satu model lama yang tegangannya naik turun," bebernya.
Rumah pembangkit listrik ditenagai dua generator dengan kapasitas 18 kilowatt (kW).
Tenaga sebesar itu, PLTMH mampu menghasilkan 432.000 watt per hari untuk kebutuhan listrik sebanyak 53 KK dengan beban kebutuhan sedang hingga berat.
Bahkan jika pelanggan terus bertambah, PLTMH mampu melayani 75 KK.
Dengan iuran Rp 12 ribu per 35 hari untuk konsumsi Listrik rata-rata rumahan antara 1.000 hingga 2.000 watt per hari.
Mengemban Tugas Tidak Mudah
Menjadi teknisi PLTMH Kedungrong sebut Rejo tidak mudah.
Membutuhkan ketelatenan dan kecakapan teknis.
Model dua turbin yang tidak sama cukup menjadi kendala.
Terutama turbin dengan model tegangan naik turun.
Di lain sisi, perawatan turbin tidak sakadar fokus pada penggantian komponen.
Tetapi juga memastikan aliran air yang masuk ke rumah pembangkit lancar, tidak terhalang sampah.
"Kalau kemarau tanpa dibersihkan tak akan macet turbinnya, Tapi kalau musim penghujan sampah pasti menumpuk di trash barier atau penghalau sampah," ungkapnya.
Sampah berupa kayu hingga plastik yang terbawa aliran irigasi akan menyumbat aliran air ke rumah pembangkit.
Jika dibiarkan suplai listrik akan terganggu.
Selain itu, sampah yang biasanya lolos dari saringan berpotensi merusak turbin.
Sehingga memerlukan pembersihan rutin.
Rejo menjadi saksi penjaga nyala listrik di Padukuhan Kedungrong.
Saat hujan tiba, masyarakat lain mungkin tetap berada di dalam rumah.
Namun, dirinya harus berjibaku dengan aliran banjir agar listrik menyala.
Hal itu, dilakukan demi masyarakat tetap menikmati listrik.
Sebagai orang yang menangani PLTMH, Rejo memiliki cita-cita untuk mengoptimalkan kemampuan pembangkit listrik terbarukan.
Cita-citanya menyebarluaskan listrik PLTMH untuk masyarakat di luar padukuhan.
Sayangnya cita-citanya itu harus berseberangan dengan regulasi pemerintah yang mensyaratkan agar PLTMH dikelola komunitas dan memiliki batasan maksimal 500 kW.
Baca Juga: Ribuan Motor Listrik Program Gizi Disegel Kejagung, DPR Setuju Dihibahkan ke Guru Honorer
Jika hendak menaikkan produksi, maka harus ada izin dengan nama perusahaan.
Di samping itu, PLTMH bersumber dari aliran sungai irigasi.
Maka dari itu pemanfaatan PLTMH berpotensi mengganggu arah aliran air,can membuat debit air akan tertunda.
Dengan begitu , kapasitas generator untuk saluran irigasi Induk Kalibawang hanya cukup memproduksi listrik maksimal 18 kW. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva