KULON PROGO - Fenomena byar-pet atau pemadaman listrik bergilir belakangan kerap terjadi hampir merata di wilayah Indonesia.
Hal ini menimbulkan keresahan warga.
Namun tidak pada warga Padukuhan Kedungrong, Kalurahan Purwoharjo, Kapanewon Samigaluh, Kulon Progo.
Mereka tak khawatir kekurangan suplai listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Sebab, sebagian besar memanfaatkan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH).
Ketua Pengelola PLTMH Kedungrong Sumberini mengatakan, hampir sebagian warga padukuhan menikmati listrik dengan energi terbarukan.
"Kami tidak merasakan dampaknya, karena sekitar 53 KK telah menggunakan sumber listrik dari PLTMH" ucap perempuan yang akrab disapa Rini, saat ditemui Radar Jogja, Senin (22/6/2026).
Rini menceritakan, pembangunan PLTMH memiliki sejarah panjang.
Awalnya, masyarakat padukuhan masih bergantung listrik dari suplai PLN.
Akan tetapi, saat itu sering terjadi pemadaman listrik.
Terutama di wilayah kaki Perbukitan Menoreh, setiap hujan datang listrik selalu padam.
Hal ini, membuat aktivitas masyarakat terganggu.
Baca Juga: Tak Ikut Ramaikan Piala Dunia di Amerika, Hokky Caraka Panaskan Persaingan di Tarkam
Tibalah di tahun 2009, terdapat kelompok KKN dari Universitas Gadjah Mada yang melakukan riset pemanfaatan potensi lokal.
Potensi yang dimaksud berupa aliran Irigasi Induk Kalibawang yang setiap tahun selalu mengalir.
Mereka melakukan kajian terkait pemanfaatan aliran air untuk energi listrik.
Akademisi awalnya hanya memanfaatkan aliran sungai untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik.
Pemanfaatan listrik saat itu, digunakan untuk penerangan lampu jalan padukuhan.
Aliran air berhasil menyuplai listrik secara konstan.
Kajian itu lantas didengar Dinas PUP ESDM DIY di tahun 2012, dan dibangunlah PLTMH.
Tentu, awalnya masyarakat bingung dengan maksud PLTMH.
Lantaran, teknologi mikrohidro baru dikenal mereka.
Namun berkat sosialisasi serta manfaat yang diberikan warga akhirnya mulai memahami maksud energi terbarukan.
Setelah melakukan pengujian, sarana PLTMH kemudian dihibahkan ke masyarakat sekitar.
Tujuannya, agar masyarakat dapat mengelola dan mengatur PLTMH itu.
Mulai tahun 2012 itulah, PLTMH resmi dikelola masyarakat secara mandiri tanpa campur tangan pemerintah.
Berkat itulah, pemanfaatan energi terbarukan menjadi lebih optimal.
"Ini kami kelola secara mandiri, warga hanya iuran Rp 12 ribu per selapan hari atau 35 hari," ucapnya.
Kemandirian pemanfaatan energi itu, juga ditunjukkan dalam pengelolaan PLTMH.
Pengelola menerapkan iuran terjangkau untuk operasional pembangkit listrik.
Iuran itu digunakan untuk merawat fasilitas pembangkit, hingga pembersihan generator.
Di awal operasional, iuran berkisar Rp 5 ribu, kini naik menjadi Rp 12 ribu.
Lantaran, harga komponen dan perawatan PLTMH tergolong mahal.
Akan tetapi, iuran untuk operasional PLTMH dinilai tak memberatkan masyarakat.
Lantaran, jika dibandingkan dengan listrik konvensional nominalnya lebih rendah.
Pengguna dapat menghemat pengeluaran bulanan sekitar 70 persen hingga 80 persen.
Di samping itu, pengguna tak lagi ketakutan dengan pemadaman listrik.
Termasuk penggunaan beban berlebihan yang biasanya menguras dompet.
Sementara itu, pelanggan PLTMH Kedungrong Suparman menyampaikan, telah berlangganan listrik sejak 2012 lalu.
Sebelumnya, ia menggunakan listrik dari PLN. Namun setiap kali musim hujan entah siang ataupun malam, terjadi pemadaman listrik.
Alhasil, ia pun nekat berlangganan listrik dari PLTMH.
"Kalau awal-awal dulu tegangan dari PLTMH masih naik turun, alhasil banyak barang elektronik rusak, tapi tidak masalah karena terus ada perbaikan," ungkapnya.
Suparman menceritakan, PLTMH pada awalnya hanya ditenagai turbin air.
Dampaknya, energi listrik yang dihasilkan sering naik turun akibat kenaikan dan penurunan debit air.
Naik turunnya tegangan membuat alat elektronik tak awet. Untungnya, setelah berulangkali perbaikan PLTMH beroperasi secara stabil.
Penggunaan listrik dari PLTMH biasanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Termasuk kebutuhan usahanya yang berupa bengkel sepeda motor.
Baca Juga: SPMB Hari Pertama di SMPN 6 Jogja, Ortu Calon Siswa Masih Kebingungan karena Gaptek
Dalam sehari, rata-rata penggunaan listrik di rumahnya mencapai 4 ribu watt.
Perlu diketahui rata-rata penggunaan listrik rumahan hanya seribu hingga dua ribu watt per hari.
Menurutnya, listrik PLTMH lebih murah dari PLN.
Lantaran, jika berlangganan PLN perbulannya ia harus membayar Rp 180 ribu.
Sedangkan dengan PLTMH, Suparman membayar iuran sejumlah Rp 65 ribu.
Ia kini mampu menekan operasional listrik rumah dan bengkelnya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva