KULON PROGO - Harga pupuk nonsubsidi di Bumi Binangun terus mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir.
Tercatat kenaikan menyentuh 50 persen.
Hal ini membuat petani holtikultura makin tercekik, akibat membengkaknya biaya operasional.
Pengelola Toko Pertanian Sumber Makmur Bumirejo Tolib Burhani menjelaskan, lonjakan harga pupuk mulai terjadi akhir Maret 2026 lalu.
Saat itu, kenaikan harga pupuk ditandai dengan menegangnya konflik Timur Tengah.
"Penyebabnya, perang, harga bbm naik, dan bahan baku pupuk yang masih impor," ucap Tolib, Jumat (12/6/2026).
Baca Juga: Mentan Amran: Kementan Gelontorkan Rp 5 Triliun untuk Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat Papua
Tolib menjelaskan, kenaikan harga pupuk nonsubsidi mencapai dua kali lipat pada jenis tertentu.
Misalnya pupuk urea yang sebelumnya dibanderol Rp 200 ribu per karung ukuran 50 kilogram kini naik hingga Rp 365 ribu per karung.
Sementara pupuk ZA sebelumnya Rp 200 ribu sekarang Rp 365 ribu per karung.
Nitrea sebelumnya Rp 325 ribu, sekarang Rp 560 ribu per karung.
NPK Rusia Sebelum Rp 640 ribu sekarang Rp 755 ribu.
4. KCL Sebelum Rp330 ribu, sekarang Rp 430 ribu
Kenaikan harga pupuk subsidi diketahui akibat beberapa faktor.
Namun paling utama, bahan baku pupuk masih berasal dari impor. Bahan baku pupuk seperti fosfat yang diimpor dari Timur Tengah, dan kalium dari Rusia.
Semua bahan dasar itu, merupakan komponen pembentukan pupuk.
"Kalau pupuk nonsubsidi itu impor, dari Rusia atau Norwegia," ungkapnya.
Baca Juga: Timnas Indonesia Naik Ke Ranking 118, Erick Thohir: Kita Harus Tetap Membumi
Kendati mengalami kenaikan harga, omset penjualannya tak berdampak banyak.
Lantaran, wilayah Bumi Binangun sedang memasuki masa tanam holtikultura.
Petani Kulon Progo biasanya memanfaatkan pupuk nonsubsidi untuk memperoleh hasil panen maksimal.
Sehingga, pembelian pupuknon subsidi cenderung stabil.
Akan tetapi, jika telah memasuki akhir tanam, pihaknya memprediksi adanya penurunan jumlah pembelian.
Penurunan bisa mencapai 30 persen.
Mengingat, petani akan mulai mengurangi jumlah konsumsi pupuk.
Baca Juga: Komisi IV DPR RI Puji Ketegasan Mentan Amran: Harga TBS Sawit, Telur, dan Ayam Mulai Naik
Sementara itu, petani asal Kalurahan Srikayangan Sentolo Maryoto menyampaikan, kenaikan harga pupuk non subsidi semakin mencekik sektor pertanian.
Pasalnya, kenaikan lebih dari Rp 100 ribu per karung. Padahal pupuk non subsidi sangat penting bagi tanaman.
"Semakin berat, sekarang kalau beli bukan karungan tapi kiloan plastik kecil ini," ungkapnya.
Maryoto memilih mengurangi jumlah pembelian pupuk non subsidi dengan mengecer.
Selain itu, penggunaan pupuk menggunakan metode kocor atau dicampur dengan air.
Tujuannya, memastikan agar pupuk merata dan tak menghabiskan banyak pupuk.
Ia mencontohkan, untuk lahan bawang merah ukuran seribu meter biasanya memerlukan satu karung NPK.
Baca Juga: Real Madrid Negosiasi dengan Bernardo Silva, Reuni dengan Kylian Mbappe di Bernabeu?
Namun semenjak kenaikan harga, ia lebih memilih eceran pupuk satu kilogram untuk setiap minggunya dengan aplikasi pengocoran.
Kendati kurang efektif pada hasil panen, cara ini tetap dilakukan. Lantaran dapat menekan ongkos operasional.
"Pupuk subsidi tidak bisa diandalkan, karena untuk holtikultura hasilnya kurang bagus," ungkapnya.
Petani yang telah menggeluti komoditas bawang merah selama belasan tahun itu, mengaku tak mau membeli pupuk subsidi.
Pasalnya, pupuk subsidi dinilai tak efektif untuk pembuahan. Dampaknya berat hasil panen tak maksimal, dan membuat petani justru merugi. (gas)