KULON PROGO - Harga komoditas minyak goreng dengan merek MinyaKita non subsidi mengalami kenaikan.
Hal ini membuat pedagang kebingungan.
Lantaran, masyarakat lebih memilih MinyaKita subsidi yang sulit dicari.
Salah satu pedagang di Pasar Bendungan Usti Melaneva menjelaskan, harga MinyaKita non subsidi terus mengalami kenaikan.
Kenaikan harga ini sudah terjadi selama tiga bulan terakhir.
"Kalau dikemasan memang harganya minyakita non subsidi Rp 15.700, tapi kalau pedagang beli digrosir harganya Rp 20 ribu," ucap Usti, Selasa (9/6/2026).
Usti menjelaskan, minyak goreng dengan merk minyakita memiliki dua kemasan yang berbeda.
Kemasan berlabel putih merupakan minyak goreng non subsidi yang kini dijual dengan harga Rp 21 ribu.
Sedangkan label bening merupakan minyak goreng subsidi yang dijual Rp 15 ribu.
Kendati berbeda dari segi kemasan, harga minyakita yang berada di label kemasan tetap sama yaitu Rp 15.700.
Hal ini membuat pedagang bingung menentukan harga. Pasalnya, harga dikemasan minyak goreng non subsidi Rp 15.700.
Padahal saat pedagang membeli di grosir, harga telah mencapai Rp 20 ribu.
Kenaikan harga minyakita non subsidi telah terjadi sejak tiga bulan lalu.
Agar tetap untung, pedagang mengambil keuntungan tipis dan menjual minyak non subsidi Rp 21 ribu.
"Kalau yang non subsidi nyarinya gampang, tapi kalau subsidi susah," ungkapnya.
Selain kenaikan harga, pedagang juga dihadapkan dengan distribusi minyakita subsidi yang sulit didapat.
Setiap dua bulan sekali, pedagang hanya memperoleh 10 dus minyak kita.
Satu dus berisi 12 buah minyakita subsidi berukuran satu liter yang dijual Rp 15 ribu.
Baca Juga: KPK Guncang Muara Enim, Bupati Edison Terjaring OTT Terkait Kongkalikong Proyek
Pedagang dilarang menaikkan harga minyak jenis ini.
Jumlah distribusi yang sedikit membuat minyakita subsidi selalu habis tak sampai sebulan.
Lantaran, masyarakat mencari minyak goreng yang lebih murah.
Hal serupa juga diungkapkan Pedagang Pasar Wates Sri Maryati.
Pedagang sepertinya kesulitan mendapatkan minyak goreng subsidi.
Padahal banyak masyarakat yang mencari minyak goreng subsidi.
"Masyarakat mencari yang murah padahal barangnya tidak ada," ungkapnya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva