KULON PROGO - Gagasan terminal ekspor yang dikaji Pemkab Kulon Progo belum bisa terealisasi. Fasilitas yang menampung produk baik UMKM atau perusahaan ini, tak bisa dibangun karena keterbatasan anggaran.
Bupati Kulon Progo Agung Setyawan menjelaskan, terminal ekspor belum menjadi prioritas. Pasalnya, anggaran daerah dinilai tak mencukupi untuk membangun fasilitas itu. Terlebih anggaran daerah lebih difokuskan untuk peningkatan infrastruktur.
"Kami belum bisa menargetkan kapan dibangunnya, karena fokus saat ini infrastruktur," ucap Agung, Kamis (4/6).
Agung menjelaskan, dalam APBD 2025 dan 2026, tak ada anggaran pembangunan terminal ekspor. Hal ini disebabkan kebutuhan masyarakat akan infratsruktur tak terbantahkan.
Padahal kondisi keuangan daerah turut mengalami efisiensi. Skema efisiensi untuk mencukupi kebutuhan infrastruktur dapat terlihat pada pengurangan TPP dan TPG, dan kunjungan.
Bupati dengan background pengusaha itu tak menampik, Bumi Bianangun membutuhkan fasilitas terminal ekspor. Lantaran, Kulon Progo memiliki potensi berupa YIA. Bandara di sisi selatan itu, emmiliki fasilitas yang mampu menampung pesawat kargo untuk ekspor.
Baca Juga: Diakui Negara, Arab Pegon Pesantren Al Kahfi Somalangu Ditetapkan WBTb Indonesia
Potensi ini, idealnya dapat ditangkap. Lantaran, terminal ekspor memiliki fungsi transit bagi barang-barang ekspor sebelum diterbangkan. Fasilitas ini juga mendukung perkembangan UMKM lokal.
Misalnya gula semut, serat alam, hingga produk lain yang telah diakui pasar internasional. "Kalau kajiannya sudah ada, tempatnya di Sentolo tapi pastinya belum ditetapkan," ungkapnya.
Sejauh ini, pemkab telah membuat kajian. Salah satunya penempatan terminal ekspor di Kapanewon Sentolo. Hal ini mempertimbangkan kawasan industri dan memiliki beberap akses jalur nasional dan kereta api. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo