KULON PROGO - Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas II Yogyakarta menerapkan protokol ketat dalam pemeriksaan jamaah haji pasca mendarat di Yogyakarta International Airport (YIA).
Jamaah haji harus menjalani sejumlah tahapan untuk memastikan kesehatan dan mengantisipasi penyakit menular dari Timur Tengah.
Kepala Tim Kerja Pelayanan Kesehatan dan Kegawatdaruratan Wisnu Wardani menjelaskan, peran BKK dalam memastikan kesehatan jamaah haji.
Pihaknya memiliki wewenang untuk penanganan jamaah haji pasca landing di bandara.
Dalam menjalankan tugasnya, BKK bekerjasama dengan otoritas bandara dan Kemenhaj.
"Yang kami pastikan terlebih dahulu adalah potensi pasien gawat darurat, kami konfirmasi ke dokter kloter," ucap Wisnu, saat ditemui Radar Jogja di YIA, Selasa (2/6/2026).
Wisnu menjelaskan, jamaah haji akan dibagi menjadi beberapa kategori.
Di antaranya, kode merah, kuning, dan hijau.
Baca Juga: UAJY Lepas 288 Lulusan, Integritas dan Kompetensi Jadi Bekal Hadapi Dunia Profesional
Setiap kode memberikan simbol tersendiri.
Apabila dokter kloter memberikan informasi jamaah haji dengan status darurat, maka status jamah memerlukan tindakan kegawatdaruratan secepatnya.
BKK terlebih dahulu melakukan pemeriksaan triase.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kode merah, dokter akan merujuk jamaah ke RSUD Wates.
Untuk jamaah kode kuning, BKK akan mengarahkan pada pemeriksaan di poli debarkasi YIA.
Sebelum dipulangkan jamaah haji harus dipastikan stabil. Apabila tertinggal dengan rombongan, jamaah dipulangkan melalui tim kesehatan daerah.
Di sisi lain, jamaah haji dengan kode hijau dapat langsung dipulangkan ke daerah asal menggunakan bus.
Baca Juga: Libur Sekolah, Prambanan Bakal Diserbu Wisatawan, Begini Persiapan Yang Dilakukan
"Pemeriksaan ini digunakan untuk memastikan kesehatan jamaah dan antisipasi penyakit dari luar negeri," ungkapnya.
Wisnu menjelaskan, perjalanan ke Timur Tengah bisa menyebabkan masalah kesehatan bagi jamaah haji.
Untuk penyakit ringan berupa influenza dan radang. Lantaran, iklim di Timur Tengah berbeda jauh dengan Indonesia.
Selain influenza, petugas turut menskrining penyebaran virus SARS.
Kendati temuan nol kasus, virus Sars tetap diwaspadai.
Gejala virus ini berupa demam tinggi, nyeri otot, hingga batuk kering.
Untuk skrining, petugas kesehatan akan memantau suhu jamaah haji yang memasuki area YIA usai mendarat.
Baca Juga: Memaknai Hari Lahir Pancasila Sebagai Nilai Luhur Bangsa
Apabila ditemukan jamaah dengan suhu lebih dari 38 derajat celcius, maka petugas akan menerapkan pemeriksaan swab.
Pemeriksaan swab mengambil sampel di bagian hidung dan dibawa ke laboratorium.
Sementara itu, Jamaah haji kloter 1 YIA asal Lendah Sukarti menyampaikan sukacitanya.
Pasalnya, ia telah menunaikan ibadah haji tanpa terkendala apapun.
Bahkan dengan cuaca di Timur Tengah, tubuhnya dapat beradaptasi.
Walau saat kepulangan, Sukarti mengalami radang.
"Ini agak serak-serak, kemungkinan radang, tapi Alhamdulillah sehat," ungkapnya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva