Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Harga Gas LPG Naik, Pemilik Rumah Makan di Kulon Progo Terpaksa Menaikkan Harga

Anom Bagaskoro • Minggu, 24 Mei 2026 | 14:06 WIB
RAPI: Petugas dari Agen LPG menurunkan tabung gas di depan pelataran pangkalan - ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA
RAPI: Petugas dari Agen LPG menurunkan tabung gas di depan pelataran pangkalan - ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA

KULON PROGO - Dampak kenaikan harga LPG non subsidi mulai dirasakan oleh pelaku usaha. Kenaikan yang telah terjadi selama dua bulan terakhir itu mulai dirasakan oleh pelaku usaha di bidang kuliner. Alhasil, pelaku usaha kuliner terpaksa menaikkan harga demi mencegah kerugian.

Pemilik Rumah Makan Soto Ayam Kampung Mbak Santi di Jalan Nasional Wates-Jogja, Kapanewon Sentolo Luki Santi membenarkan kenaikan harga LPG non subsidi mulai dirasakan oleh pelaku usaha kuliner.

Warung makan yang terletak di jalan nasional itu mematuhi regulasi penggunaan gas LPG. Sehingga biasanya mereka menggunakan gas LPG non subsidi, yang biasanya dibanderol lebih mahal.

"Biasanya satu tabung untuk tiga hari, jadi dalam seminggu membutuhkan dua sampai tiga tabung LPG non subsidi untuk seminggu," ucap Santi, Minggu (24/5).

Santi menyampaikan, walau harga LPG non subsidi lebih mahal, pihaknya tetap mematuhi regulasi pemerintah.

Baca Juga: Jadi Perhatian di Media Sosial soal Isu Pencurian Modus Pocong Jadi-Jadian, Polisi Tegaskan Hoaks

Biasanya, warung makannya menggunakan gas LPG lima kilogram bermerk Bright Gas milik pertamina. Ukuran lima kilogram dinilai sesuai dengan kebutuhan mereka, mengingat dalam seminggu hanya membutuhkan dua sampai tiga tabung LPG.

Namun kondisi warungnya mulai berubah semenjak April 2026 lalu. Pasca ketegangan Timur Tengah, pemerintah mulai menaikkan harga LPG non subsidi.

Kenaikan terus terjadi hingga kini mencapai Rp 120 ribu. Padahal di harga normal LPG non subsidi lima kilogram biasanya hanya Rp 100 ribu.

Naiknya harga LPG non subsidi pada April 2026 lalu masih bisa ditahan. Namun setelah menahan beberapa bulan, pihaknya memutuskan menaikkan harga jualannya. Harga LPG non subsidi yang semakin naik membuat pihaknya terpaksa menaikan harga produk. Lantaran, jika dibiarkan usahanya akan merugi.

"Kasihan konsumen kena dampak dari kenaikan harga LPG," ungkapnya.

Selain kenaikan harga LPG non subsidi, harga plastik sebagai bahan kemasan pangan ikut mengalami kenaikan.

Padahal plastik biasanya digunakan sebagai bungkus makanan. Di samping itu, kenaikan harga bahan baku turut memaksa pihaknya menaikkan harga produk senilai Rp 1 ribu hingga Rp 2 ribu.

Sementara itu, Pemilik Pangkalan Gas di Pasar Sentolo Baru Eko Priyono mengaku, kerap mendapat omelan dari konsumen.
Baca Juga: Persib Bandung Buntu Melawan Persijap Jepara, Bojan Hodak: Tapi Kami Tetap Menjadi Juara

Hal ini disebabkan kenaikan harga LPG non subsidi yang terus melambung tinggi. Banyak konsumen baik untuk rumah tangga atau usaha yang kaget dengan kenaikan harga Rp 20 ribu ribu per tabung,.

"LPG non subsidi ukuran 12 kilogram Rp 240 ribu, sebelumnya Rp 22 ribu," ungkapnya.

Eko menyampaikan, kenaikan harga LPG menyesuaikan dengan kebijakn pemerintah pusat dan Pertamina. Kenaikan disebabkan oleh konflik Timur Tengah dan melemahnya rupiah terhadap dolar. (gas)

Editor : Bahana.
#gas LPG #harga gas lpg naik #Kulon Progo