Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tahu Semakin Tipis, Bahan Baku Melejit: Perajin Tahu Kulon Progo Potong Ukuran

Anom Bagaskoro • Selasa, 12 Mei 2026 | 15:54 WIB
PRODUKSI: Pengrajin tahu di Kalurahan Tuksono mencetak tahu dengan alat pres lalu dipotong menjadi beberapa bagian. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
PRODUKSI: Perajin tahu di Kalurahan Tuksono mencetak tahu dengan alat pres lalu dipotong menjadi beberapa bagian. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 

KULON PROGO - Sudah sebulan lebih perajin tahu di Bumi Binangun mengencangkan ikat pinggang.

Pasalnya, bahan baku dan pendukung pembuatan tahu naik drastis.

Untuk mensiasatinya, perajin lebih memilih memperkecil ukuran tanpa menaikkan harga produk mereka.

Salah satu perajin tahu asal Kalurahan Tuksono, Kapanewon Sentolo Ponirin menyampaikan, kenaikan harga bahan baku tahu atau tempe telah terjadi selama empat bulan terakhir.

Baca Juga: Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 Disorot: Kontroversi Juri, Dianggap Tak Kompeten hingga Komentar Pedas

Kenaikan ini tergolong drastis, dan tak kunjung mengalami penurunan.

Hal ini juga dikeluhkan beragam perajin tahu tempe di sekitarnya.

"Bahan baku dan pendukung naik dan tidak turun-turun, kami merasa keberatan," ucap Ponirin, saat ditemui Radar Jogja di rumah produksinya di Padukuhan Wonobroto, Selasa (12/5/2026).

Ponirin mengaku, harga bahan baku kedelai mengalami kenaikan dari yang sebelumnya Rp 9 ribu menjadi Rp 11 ribu.

Kenaikan ini berlaku pada kedelai impor yang menjadi tulang punggung utama pembuatan tahu dan tempe.

Baca Juga: Persoalan Mengembalikan Korek dengan Dilempar, Pemuda di Playen Alami 32 Luka Tusuk

Mengingat kedelai impor memiliki biji besar dan mudah untuk diolah.

Agar tak membuat pelanggannya kecewa, pengusaha tahu itu lebih memilih tetap menggunakan kedelai impor walau harga di atas normal.

Di samping kedelai, harga minyak goreng turut melonjak.

Minyak goreng kemasan mengalami kenaikan dari Rp 20 ribu menjadi Rp 23 ribu per liter.

Padahal minyak goreng merupakan bahan pendukung untuk membuat tahu setengah matang.

Baca Juga: Pemkot Jogja Siap Berikan Hibah Lampu Stadion Mandala Krida Apabila Renovasi Bisa Dilakukan

Kenaikan harga plastik turut membebani perajin tahu.

Mengingat plastik menjadi komponen kemasan yang ideal digunakan.

Kemasan plastik tak bisa diganti kemasan lain, karena tahu lebih gampang rusak dengan kemasan non plastik.

"Tidak bisa menaikkan harga mengingat pelanggan. Cukup mengatur ukuran saja dari sebelumnya 10 kali 10 jadi 10 kali 11," ucapnya.

Kendati bahan baku naik, Ponirin enggan menaikkan harga tahu.

Pasalnya, kondisi masyarakat sedang mengalami penurunan daya beli. 

Baca Juga: Sosialisasi Beasiswa Pendidikan Menengah di Kalurahan Bendungan, Wates, Kulon Progo: Ekonomi Bukan Lagi Penghalang, Tersedia Beasiswa bagi 15 Ribu Pelajar

Apabila harga dinaikkan, usaha tahunya akan dihindari pembeli.

Padahal usahanya menghidupi belasan karyawan.

Ponirin lebih memilih mengurangi penggunaan bahan kedelai impor dari awalnya enam kilogram menjadi 5,5 kilogram.

Selain mengurangi konsumsi kedelai impor, dirinya turut mengatur ukuran tahu.

Biasanya dalam satu nampan tahu dapat menjadi 100 potong (dari 10 kali 10), kini satu nampan menjadi 110 potong (dari 11 kali 10).

Kondisi serupa juga dialami Devi Nur Utami pengrajin tahu di Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah.

Kenaikan bahan baku kedelai, minyak goreng, dan plastik membuat keuntungan usaha semakin tipis.

Baca Juga: Kesbangpol DIY Perkuat Partisipasi Politik dan Kepemimpinan Perempuan di Bantul: Tidak Hanya Jadi Ruang Belajar tapi Membangun Jejaring

Lantaran, pihaknya enggan menaikkan harga tahu.

"Lebih baik harganya tetap sama, karena daya beli masyarakat juga sedang lesu," ungkapnya.

Devi mengaku, perajin tahun memilih mengurangi ukuran ketimbang menaikkan harga.

Ia berharap agar pemerintah dapat menstabilkan harga bahan baku tempe atau tahu.

Lantaran, sudah empat bulan kenaikan tanpa diikuti penurunan harga. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#tahu #Kulon Progo #Perajin Tahu #bahan baku