KULON PROGO - Dinas Kebudayaan (Dinbud) Kulon Progo kembali menggelar Festival Dalang Cilik, Minggu (10/5). Festival dengan sistem perlombaan itu, fokus pada regenerasi dalang. Tujuannya agar seni pewayangan tetap lestari di generasi muda.
Festivial diikuti 24 peserta dari 12 kapanewon di Bumi Binangun. Setiap kapanewon mengirimkan satu dalang anak dan satu dalang remaja. Walau menjadi event tahunan, kompetisi tahun ini dipastikan berbeda.
"Tahun ini dalang harus berdomisili sesuai kapanewon yang diwakili, tidak boleh pinjam," ungkap Kepala Dinbud Kulon Progo Joko Mursito, Senin (11/5).
Ia menyampaikan, kompetisi tahun ini lebih ketat. Pasalnya, kontingen kapanewon tidak diperbolehkan meminjam dalang dari luar daerah. Peserta dalang cilik wajib berdomisili di kapanewon yang sama.
Kebijakan ini juga berlaku pada perawit. Perawit tidak diperbolehkan mengikuti lebih dari satu kontingen kapanewon. Kebijakan baru ini dianggap sebagai strategi regenerasi dunia pewayangan.
Kebijakan ini membuka peluang bagi dalang cilik lokal dan nonpengalaman. Dinbud melihat, selama ini kompetisi diikuti dalang nonlokal dan pesertanya memiliki darah pedalangan. Alhasil, tiap tahunnya regenerasi dalang tak terwujud.
"Mau tidak mau, kapanewon harus mencari potensi baru dan dilatih," ungkapnya.
Terbukanya kesempatan bagi dalang cilik memastikan, anak mendapat waktu tampil dan pelatihan yang tepat. Hal ini menjadi hal yang memantik ketertarikan pada dunia pewayangan.
Dalam festival, setiap dalang mendapatkan waktu dan kesempatan untuk tampil. Mereka dinilai oleh juri dari beberapa segmen. Penjurian meliputi vokal dalang, penguasaan lagu, kreativitas gaya, keselarasan pengiring, dan keseluruhan penampilan. Pemenang dari festival dalang akan maju ke tingkat provinsi.
Sementara itu, dalang cilik Temon Reynard Faiz menceritakan antuasiasmenya. Lantaran kali pertama menjadi dalang dan masuk kompetisi. Tentu Faiz harus berlatih selama sebulan agar penampilannya dapat menarik penonton.
"Dari keluarga tidak ada darah dalang, jadi ini memang pengalaman menarik," ungkapnya. Keluarganya memang tak ada basic dunia pewayangan. Namun berkat keikutsertaannya timbul rasa keingintahuan lebih. Menurutnya, wayang bukan lagi sekedar benda, tapi budaya yang harus dilestarikan. (gas/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita