KULON PROGO - Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) mencapai tahap akhir.
Hasil pembangunan selama tiga minggu terakhir mendapat tinjauan dari Mabes TNI AD.
Tinjauan memastikan hasil TMMD memberikan kualitas dan dapat dimanfaatkan masyarakat.
Asisten Teritorial Kasad Mayjen TNI Rachmad Zulkarnaen menjelaskan, kedatangannya untuk meninjau perkembangan TMMD di Kulon Progo.
Terutama capaian fisik yang telah dibangun oleh Satgas TMMD.
"Tadi sudah meninjau, dan Alhamdulillah tepat waktu," ucap Rachmad, saat ditemui awak media usai kunjungan di Padukuhan Diran, Senin (11/5).
Kunjungan perwakilan kasad itu, dilakukan untuk memastikan program TMMD tak terlambat.
Di tahun 2026 ini, TMMD Reguler ke-128 bertempat di Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah.
Terdapat dua sasaran utama, yaitu sasaran fisik dan non fisik.
Sasaran fisik berupa pembangunan jalan lingkungan, rehabilitasi rumah tidak layak huni, pembuatan sumur bor, hingga rehab rumah ibadah.
Sedangkan, sasaran non fisik berupa sosialisasi PMK ke peternak, sosialisasi wawasan kebangsaan, dan cek kesehatan gratis.
Kunjungan sosok berbintang dua itu, meninjau pembangunan sumur bor di Masjid Baiturohman.
Sumur bor tersebut dibangun dengan kelengkapan penampungan air.
Keberadaan fasilitas ini diperlukan untuk menunjang fasilitas ibadah.
Peninjauan berlanjut ke beberapa lokasi, termasuk di pembangunan rehab rumah tidak layak huni, di Padukuhan Diran, Kalurahan Sidorejo.
Selain meninjau lokasi, Rachmad turut menjawab keluhan masyarakat.
Salah satunya, masalah kebutuhan listrik di area pertanian.
"Listrik nanti ada program ketahanan pangan bisa dimanfaatkan," ungkapnya.
Mayjen TNI Rachmad menjelaskan, beberapa persoalan di masyarakat telah diselesaikan melalui diskusi.
Untuk TMMD, Rachmad juga menegaskan satgas harus bekerja tepat waktu.
Selain waktu, kualitas harus dijaga, mengingat hasil dari TMMD akan digunakan masyarakat.
Ia mengakui, anggaran TMMD cukup kecil. Jika anggaran kecil dipergunakan oleh kontraktor, dampaknya tak akan terasa.
Namun berbeda dengan TMMD, program tersebut bertitik tumpu pada gotong-royong masyarakat.
Alhasil biaya tak membengkak, sekaligus kualitasnya terjamin. Lantaran, masyarakat ikut serta membangun dan merasa memiliki.
Sementara itu, penerima manfaat rehab RTLH Rusiyem mengaku terbantu dengan perbaikan rumah.
Ia bersama suaminya, telah hidup di rumah berdinding gebyok dan anyaman bambu.
Bantuan rehab dirasa dapat meningkatkan taraf hidup keluarganya.
"Sangat bermanfaat, bisanya cuma terimakasih," ungkapnya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva