KULON PROGO - Dinas Kebudayaan (Dinbud) Kulon Progo menggelar Festival Dalang Cilik di Auditorium Taman Budaya Kulon Progo Minggu (10/5/2026).
Festival dengan sistem perlombaan itu, berfokus pada regenerasi dalang.
Tujuannya, agar seni pewayangan tetap lestari di generasi muda.
Kepala Dinbud Kulon Progo Joko Mursito menjelaskan, festival diikuti 24 peserta dari 12 kapanewon di Bumi Binangun.
Baca Juga: Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Girona La Liga Selasa 12 Mei 2026, Los Franjirrojos Incar 3 Poin
Setiap kapanewon mengirimkan satu dalang anak dan satu dalang remaja.
Walau menjadi event tahunan, kompetisi tahun ini dipastikan berbeda.
"Tahun ini dalang harus berdomisili sesuai kapanewon yang diwakili, tidak boleh pinjam," ucap Joko, Senin (11/5/2026).
Joko menyampaikan, kompetisi tahun ini lebih ketat.
Pasalnya, kontingen kapanewon tidak diperbolehkan meminjam dalang dari luar daerah.
Peserta dalang cilik wajib berdomisili di kapanewon yang sama.
Kebijakan ini juga berlaku pada pengrawit.
Pengrawit tidak diperbolehkan mengikuti lebih dari satu kontingen kapanewon.
Kebijakan baru ini, dianggap sebagai stratehi regenerasi dunia pewayangan.
Pasalnya, kebijakan ini membuka peluang bagi dalang cilik lokal dan non pengalaman.
Baca Juga: Tak Bisa Berkandang di Rumah Sendiri, Suporter PSIM Jogja Sindir Korupsi Stadion Mandala Krida
Dinbud Kulon Progo melihat, selama ini kompetisi diikuti dalang non lokal dan pesertanya memiliki darang pedalangan.
Alhasil, tiap tahunnya regenerasi dalang tak terwujud.
"Mau tidak mau, kapanewon harus mencari potensi baru dan dilatih," ungkapnya.
Terbukanya kesempatan bagi dalang cilik memastikan, anak mendapat waktu tampil dan pelatihan yang tepat.
Hal ini menjadi hal yang memantik ketertarikan pada dunia pewayangan.
Dalam festival, setiap dalang mendapatkan waktu dan kesempatan untuk tampil.
Mereka dinilai oleh juri dari beberapa segmen.
Penjurian meliputi, vokal dalang, penguasaan lagu, kreativitas gaya, keselarasan pengiring, dan keseluruhan penampilan.
Pemenang dari festival dalang akan maju ke tingkat provinsi.
Sementara itu, Dalang Cilik Temon Reynard Faiz menceritakan antuasiasnya.
Lantaran, kali pertama menjadi dalang dan masuk kompetisi.
Tentu, Faiz harus berlatih selama sebulan agar penampilannya dapat menarik penonton.
"Dari keluarga tidak ada darah dalang, jadi ini memang pengalaman menarik," ungkapnya.
Faiz menjelaskan, keluarganya tak ada basic dunia pewayangan.
Namun, berkat keikutsertaannya timbul rasa keingintahuan lebih.
Menurutnya, wayang bukan lagi sekedar benda, tapi budaya yang harus dilestarikan. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva