KULON PROGO - Kebijakan pemerintah pusat memangkas dana desa (DD) dirasakan masyarakat.
Dampaknya dirasakan ratusan guru PAUD di Kulon Progo, karena pemangkasan honor.
Di lain sisi program makan bergizi gratis (MBG) besutan Presiden Prabowo Subianto tetap berjalan.
"Kenapa honor guru PAUD turun, tetapi MBG jalan terus," ungkap Kepala Sekolah TK PAUD Pertiwi Pamardi Putra III Titin Rahayu, saat ditemui awak media di TK PAUD Pertiwi Pamardi, Padukuhan Gebangan, Kalurahan Pengasih, Kapanewon Pengasih, Kamis (7/5/2026).
Dia memberikan saran ke pemerintah agar mempertimbangkan kebijakan MBG.
Ia justru meminta pemerintah agar menaruh perhatian ke kesejahteraan guru.
Mulai dari kesejahteraan guru ditingkat SMA hingga PAUD.
Baca Juga: Ahmad Dhani Beri Pernyataan Menohok, Masa Lalu Terkuak Kembali
Titin menjelaskan, program MBG dinilai tak mampu menuntaskan masalah pendidikan Indonesia.
Lantaran, manfaat MBG tidak banyak dirasakan semenjak berjalan.
Jika dijalankan di daerah prevelensi stunting tinggi, mungkin MBG bermanfaat.
Namun, jika di tempatnya manfaat tak terlalu banyak.
Mengingat makanan bergizi siswa mereka telah disediakan orangtua.
Sorotannya beralih ketika honor guru PAUD mengalami penurunan drastis.
Baca Juga: Beberapa Suporter Turun ke Lapangan di Stadion Maguwoharjo, PSS Sleman Disanksi Denda Oleh PSSI
Padahal program MBG terus berjalan dan berpotensi bertambah.
Kebijakan tersebut justru merugikan guru sepertinya.
Pasalnya, honor guru PAUD di tahun 2026 menurun menjadi Rp 350 ribu dari yang sebelumnya Rp 500 ribu.
Penurunan honor ini, disebabkan oleh kebijakan pemerintah pusat memangkas dana desa.
Alhasil, dana desa yang digunakan untuk biaya honor guru pun terdampak.
Baca Juga: Prediksi Skor Freiburg vs Braga Europa League Jumat 8 Mei 2026, Siapa Yang Layak ke Final?
Anggaran MBG yang bertambah, menurutnya dapat digunakan untuk meningkatkan honor guru informal sepertinya.
Lantaran, peran guru informal tergolong krusial.
Mengingat pendidikan seperti PAUD dan TK bertugas menyiapkan anak untuk ke sekolah formal.
Ia pun bersyukur kalurahan di tempat ia kerja pun masih peduli menganggarkan DD untuk honor guru paid di tengah efisiensi.
"Kami masuk pagi pulangnya siang, karena mengurus administrasi," ungkapnya.
Titin menyampaikan, beban kerja guru TK dan PAUD hampir sama dengan guru formal pada tingkatan SD hingga SMA.
Tak hanya mengajar, guru turut berkutat dengan urusan administrasi.
Tak jarang guru PAUD perlu bantingan iuran untuk mencukupi operasional sekolah.
Kendati dengan penurunan honor, pihaknya memastikan tak ada perubahan dalam hal kualitas pendidikan.
Guru PAUD tetap bekerja seperti biasanya, karena atas dasar pengabdian dan kecintaan dengan dunia pendidikan.
(gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva