KULON PROGO - Ekosistem perairan Bumi Binangun terancam ikan invasif. Bukan sapu-sapu yang viral di Jakarta, melainkan ikan red devil.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulon Progo Drajat Purbadi menyampaikan, temuan ikan sapu-sapu di perairan Bumi Binangun belum banyak ditemukan. Temuan ikan sapu-sapu paling banyak ditemukan di saluran irigasi.
"Ada beberapa ikan sapu-sapu, tapi populasinya masih terkendali," ucap Drajat, Minggu (3/5).
Drajat menyampaikan, ikan sapu-sapu di Bumi Binangun belum mencapai tahap merusak ekosistem. Lantaran, jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Apabila pantauan rutin menunjukkan angka populasi yang naik, pihaknya turut melakukan pengendalian populasi.
DKP Kulon Progo justru menaruh perhatian pada jenis ikan red devil. Pasalnya, populasi ikan red devil tak terkendali. Terutama di Waduk Sermo yang menjadi penyebaran ikan invasif itu. Dulunya ikan ini dibudidaya dalam metode karamba di waduk untuk ikan hias. Namun, justru terlepas hingga populasinya terus bertambah.
Populasi yang tak terkendali, menyebabkan habitat ikan lokal tergusur. Lantaran, ikan red devil merupakan fauna air yang agresif.
Sehingga, ikan lokal yang identik berbadan kecil akan kalah dengan red devil. "Sebetulnya kami juga kewalahan untuk menurunkan populasi red devil," ungkapnya.
Drajat menyampaikan, upaya menurunkan populasi ikan invasif telah dilakukan. Salah satu yang paling utama melakukan restocking atau penebaran ikan lokal di Waduk Sermo. Namun, langkah ini kurang efektif.
Restocking rutin dilakukan setiap tahunnya. Restocking berupa penebaran ikan lokal seperti wader, mujaer, hingga nilem. Untuk menurunkan populasi ikan red devil, restocking dikhususkan menebar ikan ukuran besar. Lantaran, jika ukuran kecil maka ikan red devil tetap mendominasi. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo