KULON PROGO - Tren haji ilegal di musim haji 2026 ini diklaim mengalami penurunan. Lantaran, masyarakat mulai memiliki wawasan dan pengetahuan dengan bahaya haji ilegal.
Hal itu diungkapkan Menteri Haji dan Umroh RI Mochamad Irfan Yusuf menyikapi otoritas Arab Saudi yang menangkap tiga WNI di Mekah. Ketiganya diduga calo penyelenggaraan haji ilegal yang menawarkan layanan haji melalui media sosial.
"Ada tiga WNI yang ditangkap kepolisian sana," ucap Irfan, saat ditemui awak media di Embarkasi YIA Kulon Progo, Jumat (1/5).
Baca Juga: Kepeleset, Remaja asal Sleman Ditemukan Tewas setelah Empat Jam Pencarian di Sungai Progo
Pria yang akrab disapa Gus Irfan menyampaikan, kemenhaj mendapat laporan dari Konsulat Jenderal RI di Arab Saudi melaporkan adanya 15 CJH ilegal. Belasan CJH ini diketahui menggunakan Visa Ziarah hingga Bekerja. Kondisi ini, menunjukkan masih adanya layanan jamaah haji ilegal.
Kebanyakan korban jamaah haji ilegal, diimingi ibadah haji tanpa antre. Padahal regulasi haji di Arab Saudi semakin ketat. Hal ini dipengaruhi oleh kebijakan otoritas setempat. Termasuk menjamin kenyamanan jamaah haji reguler selama beribadah. "Cenderung lebih rendah, laporan ke saya masih di bawah 50 orang," ucapnya.
Kendati masih ada temuan haji ilegal, Gus Irfan mengklaim penurunan tren. Lantaran, pada haji 2025 lalu imigrasi Indonesia dilaporkan menangkal 1.200 CJH ilegal. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan pada tahun ini.
Penurunan tren haji ilegal disebabkan karena masyarakat lebih cerdas. Lantaran, masyarakat mulai banyak mengulik informasi dan kebijakan haji di Arab Saudi. Sehingga, mayoritas masyarakat memilih beribadah haji menggunakan jalur legal.
Gus Irfan turut menambahkan, peran Satgas Pencegahan Haji Ilegal yang berkolaborasi dengan Polri. Satgas ini, menyisir penawaran haji ilegal termasuk ditempatkan di kantong-kantong penerbangan ke Arab Saudi, seperti Cengkareng dan Surabaya. Satgas ini, ditugaskan menyisir dan mencegah CJH ilegal berangkat ke Arab Saudi. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo