KULON PROGO - Komoditas minyak goreng yang dijual di pasar tradisional di Bumi Binangun mengalami lonjakan harga dan pembatasan jumlah penyaluran ke pedagang.
Di sisi lain, minyak goreng subsidi dengan harga terjangkau justru sulit ditemui.
Pedagang Sembako Pasar Wates Etikawati menjelaskan, harga minyak goreng mulai merangkak naik sejak dua minggu terakhir. Dari harga rata-rata Rp 18 ribu menjadi Rp 23 ribu per liter.
Tak ada diketahui penyebab pasti kenaikan harga ini, mengingat kebanyakan pedagang hanya menerima penyaluran minyak dari distributor.
"Harganya langsung naik begitu saja, terutama minyak goreng bermerek," ucap Etik, Minggu (19/4).
Minyak goreng kemasan dengan merek tertentu mengalami kenaikan yang dirasa memberatkan pedagang dan masyarakat. Hampir seluruh minyak goreng dengan merk yang dikenal masyarakat mengalami kenaikan rata-rata Rp 8 ribu, dari yang sebelumnya Rp 38 ribu untuk ukuran dua liter. Kenaikan ini menyebabkan harga melambung jauh hingga menyentuh Rp 46 ribu ukuran dua liter.
Baca Juga: Tidak Dapat Menyaksikan PSIM Menjamu Persija di SSA, Suporter: Kecewa!
Pedagang kecil sepertinya turut ditampar dengan jumlah penyaluran minyak dari distributor yang terbatas. Di hari normal, pedagang mampu mendapat penyaluran 20 karton minyak goreng, yang setiap kartonnya berisi enam kemasan minyak goreng berukuran dua liter. Alhasil, permintaan masyarakat untuk membeli dengan jumlah banyak tak bisa diterima pedagang sepertinya.
"Sekarang cuma dapat tiga karton per pedagang," ungkapnya.
Kendati penyaluran dibatasi, pihaknya masih menilai stok minyak goreng bermerek masih cukup aman. Hal ini disebabkan banyak konsumen yang beralih ke minyak subsidi yang dibanderol Rp 15.500 per liter. Padahal distribusi minyak subsidi dengan merk Minyakita cukup terbatas. Setiap pedagang dibatasi menjual dua karton setiap harinya.
Salah satu pembeli asal Triharjo Ayu Listianti sengaja mencari minyak subsidi bermerk Minyakita. Pasalnya, harga minyak goreng kemasan mengalami kenaikan drastis. Harga minyak goreng subsidi dirasa masih ramah dikantong. Utamanya, bagi penggunaan rumah tangga ataupun usaha kecil.
"Semoga harganya segera turun, karena nyari minyak subsidi susah," ungkapnya.
Pemilik usaha kuliner sepertinya berharap harga minyak goreng segera mengalami penurunan.
Pasalnya, setiap hari dirinya membutuhkan dua liter minyak. Jika tak kunjung turun, laba penjualan makanan miliknya terus terpangkas. (gas)
Editor : Bahana.