KULON PROGO - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY menggelar Bimbingan Teknis Pencegahan dan Penanganan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Kegiatan ini ditujukan untuk kelompok tani di Kulon Progo.
Mereka diberikan pelatihan mencegah dan mengurangi sebaran hama.
Kepala Seksi Pengendalian OPT Agnes Prabawati menjelaskan, bimtek digelar di beberapa lokasi di Kulon Progo.
Di Kapanewon Lendah misalnya.
Kegiatan ini mengundang 35 petani asal Kelompok Tani Rejo.
Dihadirkan instruktur yang `merupakan akdemisi sekaligus petani yang berpengalaman untuk saling bertukar wawasan.
"Intinya menambah wawasan serta pemahaman ke petani," ucap Agnes, saat ditemui Radar Jogja, Rabu (15/4/2026).
Baca Juga: Ratusan Ketua DPRD Se-Indonesia Peserta Retret Tiba di Akmil Magelang, Kompak Pakai Seragam Komcad
Pada pertemuan di wilayah Kapanewon Lendah, bimtek terfokus ke pengendalian hama tikus.
Wilayah Kapanewon Lendah masuk wilayah rawan terserang hama tikus.
Walau frekuensinya tak terlalu banyak, potensi hama tikus harus segera ditangani.
Tujuannya, mencegah kerusakan pada tanaman dan potensi gagal panen.
Penanganan hama tikus membutuhkan keserempakan dalam pengendalian.
Baca Juga: Jogja Kalah Skor Kemajuan Kota dengan Surakarta, Begini Tanggapan Wali Kota Hasto Wardoyo
Kelompok tani berperan menampung dan mengarahkan anggotanya untuk melakukan pengendalian.
Pengendalian hama tikus dapat dilakukan secara terus-menerus, baik pra tanam hingga pasca tanam.
Semakin banyak frekuensinya, populasi tikus akan ditekan.
"Kuncinya di keserempakan, teknisnya bisa menggunakan gropyokan, emposan, atau pemangsa tikus," ungkapnya.
Menurutnya, teknik pengendalian hama tikus cukup bervariasi.
Bahkan tiga teknik utama pengendalian tikus dapat dikombinasikan.
Teknik pengendalian tikus secara tradisional dikenal dengan tradisi gropyokan.
Baca Juga: Ikan Sapu-sapu Ancaman Serius Ekosistem Sungai, Predator Ikan Lokal dan Merusak Struktur Bangunan
Walau hanya dengan alat sederhana, teknik ini cukup efektif. Lantaran, tikus dipastikan mati atau tertangkap petani.
Gropyokan atau mencari tikus dengan membongkar pematang sawah dapat dikombinasikan dengan teknik emposan.
Teknik emposan berupa mengasapi lubang tikus agar tikus mati ataupun keluar dari pematang.
Teknik ini, juga dapat dikombinasikan dengan mengembangbiakkan pemangsa alami tikus, seperti burung hantu.
Petani cukup memasang kandang atau tenggeran, dan menunggu burung hantu.
"Kami rutin memberikan bantuan mulai dari emposan hingga rumah burung hantu," ungkapnya.
Untuk mendukung pengendalian hama ditingkat petani, pihaknya turut mendistribusikan emposan hingga obta tikus.
Di samping itu, setiap tahunnya terdapat alokasi rumah burung hantu.
Anggota DPRD DIY Hifni Muhammad Nasikh mengapresiasi, bimtek petani.
Pasalnya, petani perlu pemahaman serta wawasan untuk meningkat produktivitasnya.
Jika tanaman pangan terkena hama dan gagal panen, petani mengalami kerugian.
Di samping itu, ketahanan pangan lokal akan terganggu apabila terjadi gagal panen.
"Kemi mendukung upaya kesejahteraan petani, dan sudah ada regulasinya," ucapnya.
Hifni menjelaskan, Perda DIY Nomor 11 Tahun 2020 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani memberikan mandat ke pemerintah untuk mendukung kegiatan pertanian.
Petani tentu perlu dukungan dari segi sarpras hingga peningkatan kompetensi.
Tujuannya, mendapat keniakan hasil dari sektor pangan. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva