KULON PROGO - Gubernur DIJ Hamengku Buwono X kali ini menghadiri syawalan di Kulon Progo. Yang cukup berbeda, geblek sebagai hidangan dan ornamen tak ada dalam acara ini. Bahkan arahan khusus saat sambutan juga tidak ada.
Pantauan Radar Jogja, motif geblek renteng di TBK telah ditambal dengan papan berbalut banner bergambar gunungan. Termasuk ornamen geblek renteng di dalam auditorium tempat syawalan, sudah ditutup papan kamuflase.
Penutupan itu, telah dilakukan setelah munculnya gaduh penggantian geblek rentemg. Selain ornamen, hidangan geblek berbahan tepung tapioka pun tak tersaji. Padahal pembicaraan geblek sempat disinggung Wakil Gubernur DIJ Paku Alam X.
Baca Juga: WNA Ngamen Akrobatik di Jogja Diamankan, Berikut Penjelasannya Satpol PP
Informasi yang dikumpulkan, Paku Alam X dan HB X sempat menyinggung obrolan hidangan geblek yang tak tersaji di area makan VIP. Obrolan itu juga mengarah ke Sekda Kulon Progo Triyono yang memiliki kolega penjual geblek.
Sontak obrolan itu memantik kekagetan pejabat yang ada di ruang yang sama. Dalam satu meja, terdapat bupati, wabup Kulon Progo dan gubernur-wagub serta pejabat lingkup Pemprov DIJ.
Meski hanya menyinggung keberadaan geblek, Pemkab Kulon Progo justru menanggapi serius. Pasalnya, Sekda Kulon Progo Triyono harus keluar dari ruangan untuk mencari hidangan geblek.
Sayangnya, hidangan geblek yang dijanjikan tak benar-benar tersaji. Pasalnya, HB X enggan menunggu karena hendak bertolak ke Yogyakarta International Airport (YIA). Hidangan geblek lantas disusulkan ke Paku Alam X dan HB X pasca acara oleh Triyono.
Kabag Protokol dan Rumah Tangga Setda Kulon Progo Risdiyanto Nugroho membenarkan perihal obrolan geblek di ruang makan VIP saat syawalan. Namun, kelengkapan obrolan itu tak terlalu jelas. Lantaran, dirinya berada di luar ruangan. "Lebih detailnya ke Pak Sekda," ungkapnya.
Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kulon Progo Chris Agung turut menambahkan, obrolan geblek berkaitan sosok Sekda Triyono yang memiliki keluarga turun temurun produksi geblek. Ia menegaskan, obrolan hanya bersifat pribadi. "Wagub Paku Alam X ada pesan khusus geblek ke Pak Sekda," ungkapnya.
Syawalan bersama HB X tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya, sambutan HB X tak hanya menjadi ajang memaafkan. Namun menjadi ajang yang ditunggu setiap pemkab ataupun pemkot.
Pasalnya, HB X memberikan arahan khusus ke pemerintah bawahnya. "Idul Fitri momentum membina ikatan persatuan," ucap HBX dalam sambutannya.
HB X sama sekali tak memberikan arahan khusus untuk pengembangan daerah. Ia hanya mengajak pemkab untuk tetap menjaga persatuan. Terutama merangkul masyarakat yang kepentingannya harus diutamakan.
Nasi Angkringan Manjadi Sajian
Pemandangan berbeda nampak pada Syawalan Gubernur HB X di Kulon Progo ini. Bukan makanan prasmanan, sajian nasi angkringan justru menyambut peserta syawalan.
Pantauan Radar Jogja, Syawalan Gubernur DIJ dilaksanakan di Auditorium Taman Budaya Kulon Progo. Selain kursi peserta, bagian belakang auditorium terdapat empat gerobak angkringan berjajar. Seperti sedang berjualan, di gerobak angkringan disusun pula nasi kucing lauk sambal maupun tempe. Setiap gerobak menyediakan ratusan nasi, gorengan, hingga sate.
Salah satu penjual angkringan Wasini mengaku antusias mengikuti syawalan bersama Gubernur HB X. Penjual angkringan yang mangkal di dekat Balai Kalurahan Margosari itu baru kali pertama mengikuti kegiatan itu.
Baca Juga: Dana Desa 21 Kalurahan di Kabupaten Gunungkidul Dijadwalkan Cair Akhir Bulan Ini
"Senang bisa diundang dan menyediakan makanan," ucap Wasini saat ditemui Radar Jogja, Senin (13/4).
Ia menjelaskan, undangan menghadiri syawalan telah diterima sejak empat hari lalu. Bersamaan dengan undangan, ada permintaan menyediakan makanan untuk tamu undangan syawalan. Sebanyak 200 porsi nasi kucing beserta gorengan dan sate ikut dipesan. Total harga Rp 1,5 juta.
Perempuan paro baya ini mengaku antusias mengingat jarang sekali diundang untuk menyediakan makanan. Mengingat jualannya merupakan nasi kucing yang biasanya dijual di pinggir jalan. Kini masakan dan jualannya justru dikonsumsi dan dinikmati banyak orang, termasuk tokoh publik.
Baca Juga: Bocah Empat Tahun asal Sleman Kibarkan Merah Putih di Thailand
Sementara itu, Kepala Bagian Protokol dan Rumah Tangga Setda Kulon Progo Risdiyanto Nugroho menyampaikan, angkringan serta UMKM lain sengaja dihadirkan. Selain empat gerobak angkringan, terdapat tiga penjual bakso dan bakwan kawi, dua penjual dawet, serta dua penjual bakmi. "Sesederhana mungkin dan menyesuaikan anggaran pasca efisiensi," ungkapnya.
Di tengah efisiensi anggaran, pihaknya mengupayakan anggaran per porsi Rp 10 ribu dengan 800 porsi tamu undangan. Walau dibanderol harga murah, makanan dibuat berkesan. Walau kebanyakan pedagang berjualan di pinggir jalan, pihaknya ingin mengenalkan produk UMKM agar naik kelas.
Hal ini juga adaptasi dari pola beberapa daerah, khususnya pemprov yang sering berkolaborasi dengan UMKM. Khususnya mengundang UMKM seperti angkringan untuk menyajikan makanan ke tamu. (gas/laz)