Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Potret Pendidikan di Kulon Progo, Satu Guru Mengajar 18 Kelas; Suharyadi dalam Satu Hari Bisa Enam Kelas, dari Pagi hingga Sore

Anom Bagaskoro • Jumat, 10 April 2026 | 21:42 WIB
SINGLE FIGHTER: Suharyadi tetap semangat walau harus mengajar dari pagi hingga sore hari. Ia satu-satunya guru olahraga di sekolah dengan 18 kelas itu. (Anom Bagaskoro/Radar Jogja)
SINGLE FIGHTER: Suharyadi tetap semangat walau harus mengajar dari pagi hingga sore hari. Ia satu-satunya guru olahraga di sekolah dengan 18 kelas itu. (Anom Bagaskoro/Radar Jogja)

KULON PROGO - Kabupaten Kulon Progo kini menghadapi persoalan pendidikan berupa krisis guru. Sejumlah sekolah mulai merasakan kekurangan tenaga pendidik.

Temuan Radar Jogja, didapati satu guru yang mengajar belasan kelas. Duh...

Guru Olahraga SMPN 1 Wates Suharyadi menceritakan, beban mengajar belasan kelas yang dianggapnya sebagai pengabdian untuk negara dan masyarakat.

PNS yang telah mengajar sejak tahun 1997 itu mengerti pahit manis perjuangan guru. Utamanya, di tengah krisis kekurangan guru yang berdampak ke dirinya sendiri.

"Sekarang mengajar 18 kelas, per minggunya 54 jam," ucap Suharyadi saat ditemui Radar Jogja, Rabu (8/4/2026).

Baca Juga: Jean Paul van Gastel Akui Belum Aman dari Zona Degradasi di BRI Super League 2025/2026

Ia menjelaskan awal dirinya mengajar belasan kelas. Beberapa tahun lalu, ia memiliki rekan kerja guru olahraga yang dapat membagi beban mengajar.

Namun guru itu akhirnya pensiun tanpa ada tambahan tenaga pendidik.

Mulai dari situlah ia resmi menjadi satu-satunya guru olahraga yang mengampu belasan kelas. Mulai dari kelas 7 hingga 9. 

Kesehariannya sebagai guru dengan kelas terbanyak, tentu tak lepas dari kata disiplin. Setiap paginya harus di sekolah sebelum pukul 07.00.

Baca Juga: 24 Dokter Muda Mulai Bertugas di Magelang, Damar Ingatkan soal Tantangan Pelayanan hingga Fasilitas

 Tujuannya, agar siswa tak menunggu dan langsung melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM). "Satu hari bisa enam kelas, dari pagi hingga sore," ungkapnya.

Suharyadi sudah akrab dengan jadwal padat. Dalam satu kali KBM dengan durasi tiga jam dirinya terkadang harus mengampu dua kelas sekaligus.

Jika tak menggunakan skema ini, kelas beserta siswanya terancam tak mendapat KBM olahraga. Lantaran, dalam seminggu waktu sekolah hanya lima hari. 

Tentu mengajar dua kelas dalam satu pertemuan tak bisa dibilang gampang. Bukan berat di fisik, tetapi berat ditanggungjawab.

Guru olahraga yang menghabiskan waktu di lapangan harus memastikan setiap siswa mendapat porsi materi yang cukup.

Di samping itu, tanggung jawab keselamatan siswa turut menjadi perhatian guru. "Anak-anak kalau olahraga siang hari juga kurang optimal," ungkapnya. 

Baca Juga: WFH bagi Pegawai di Gunungkidul Diterapkan;  Harus di Rumah saat Jam Kerja, Keluyuran tanpa Alasan Kedinasan Disanksi Tegas

Kendati dalam satu kali KBM terdapat dua kelas dengan rata-rata 60 siswa, tak membuat pekerjaannya selesai siang hari.

Bahkan saat terik matahari tepat di atas kepala, KBM olahraga tetap berlanjut. Kondisi ini, cukup disayangkan olehnya. 

Kebanyakan siswa memiliki kecenderungan tak dapat berolahraga saat cuaca terik. Alhasil, Suharyadi menganggap kondisi itu tak optimal.

Ia memilih KBM saat siang hari dengan tak memaksakan materi ke siswa. Tujuannya agar siswa tetap bisa belajar walau kondisi kurang memungkinkan. 

Baca Juga: Pemakaian Listrik Dikurangi, Sebagian ASN Beralih Naik Sepeda saat Pemberlakuan WFH di Pemkab Bantul

Ia mengaku tak bisa berbuat banyak atas kondisi kekurangan guru. Lantaran sekolah tak bisa mengangkat honorer.

Sebenarnya sekolah hanya cukup mengangkat satu guru olahraga kembali.

Mengingat idealnya satu guru mengampu sembilan kelas dengan beban waktu ajar 27 jam per minggu. Namun, kebijakan berkata lain. 

Sebagai guru yang hampir pensiun, dirinya berharap agar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulon Progo dapat mencarikan solusi.

Mengingat sektor pendidikan, terutama tenaga pengajar masih diperlukan. 

Baca Juga: Dampak Hujan Deras di Sleman, Sebabkan Tanggul Jebol hingga Rumah Warga Kebanjiran

Sementara itu, Kepala Badan Kepegawaian Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kulon Progo Sudarmanto membenarkan, Bumi Binangun kekurangan ASN.

Dari segi pelayanan hingga pendidikan, tenaga ASN masih tidak ideal. Hal ini, dipengaruhi laju pensiun dan rekrutmen yang tak seimbang.

"Jumlah pensiun lebih banyak dibanding rekrutmen," ungkapnya. (gas/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#krisis guru #kekurangan tenaga pendidik #Suharyadi #kegiatan belajar mengajar