Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

PHRI Kulon Progo Was-Was Penurunan Okupansi Hotel dan Restoran Saat Harga Tiket Tinggi

Anom Bagaskoro • Jumat, 10 April 2026 | 16:45 WIB
LIBUR: Wisatawan memadati area pemecah ombak Pantai Glagah.
LIBUR: Wisatawan memadati area pemecah ombak Pantai Glagah.

 

KULON PROGO - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kulon Progo cemas dengan kenaikan harga tiket pesawat yang mengalami kenaikan.

Lantaran, dampaknya berkaitan dengan okupansi hotel dan restoran.

Ketua PHRI Kulon Progo Sumantoyo menjelaskan, kenaikan harga tiket pesawat mulai terlihat.

Hal ini menyusul kebijakan pemerintah pusat yang mengatur kenaikan harga tiket dengan rentang 9-13 persen dari sebelumnya.

Kebijakan yang diumumkan ini, memastikan maskapai dapat adaptif dengan potensi kenaikan BBM khususnya avtur.

Baca Juga: Nahas, Siswa SMP Islamic Center Siak Riau Meregang Nyawa Terkena Senapan Pakitan Saat Praktikum Sains

"Yo piye, kami hanya bisa khawatir," ucap Sumantoyo, Jumat (10/4/2026).

Sumantoyo menjelaskan, PHRI tak bisa berbuat banyak atas kondisi itu.

Kebijakan kenaikan BBM disebut sebagai jalan satu-satunya pemerintah dalam menghadapi konflik Timur Tengah.

Tentu dampaknya, PHRI harus mengencangkan ikat pinggang. Mengingat penurunan okupansi akan terjadi.

Okupansi diprediksi akan menjadi terendah di tahun ini, dengan penurunan di bawah 50 persen.

Baca Juga: Prediksi Skor West Ham vs Wolves Premier League Sabtu 11 April 2026, Pertarungan Dua Tim Zona Degradasi

Kondisi ini berpedoman pada nilai okupansi saat Libur Lebaran dan Nyepi 2026 lalu, yang mentok di angka 70 persen.

"PHK jadi opsi terakhir kami, kalau sudah mentok," ungkapnya.

Sumantoyo menjelaskan, okupansi bisa saja mengalami penurunan di angka prediksi.

Jika prediksi itu terjadi, maka hotel dan restoran harus mengambil sikap menekan operasional.

Paling pertama, menurunkan konsumsi listrik yang disesuaikan dengan penurunan jumlah tamu.

Di samping itu, karyawan hotel atau restoran bisa terdampak akibat potensi PHK.

Baca Juga: Tiga Sumur di Turi Tercemar Limbah SPPG, DLH Sebut Dampak Kotoran Cair dalam Tanah Sulit Dipulihkan

Kendati begitu, potensi wisatawan dengan moda transportasi bus atau kereta api masih bisa menyumbang kunjungan.

Akan tetapi, potensi kunjungan cukup kecil.

Hal ini, terbukti saat Lebaran tingkat kunjungan wisata mengalami kenaikan.

Namun, kunjungan tak berdampak ke hotel dan restoran. 

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) Kulon Progo Sutarman menyampaikan, adanya kenaikan kunjungan wisata di Bumi Binangun.

Objek wisata berretribusi dikunjungi 100.661 wisatawan, naik dibanding libur Lebaran 2025 yang hanya 99.154 wisatawan.

"Peningkatan menunjukkan minat masyarakat berkunjung ke Kulon Progo," ungkapnya. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Okupansi Hotel dan Restoran #PHRI Kulon Progo #kenaikan bbm #libur lebaran #Wisatawan