KULON PROGO - Taruna Siaga Bencana (Tagana) kini telah berumur 22 tahun.
Namun, di balik umur yang bertambah serta tantangan bencana di DIY, sarpras Tagana justru telah usang, kebanyakan telah berumur puluhan tahun, menanti peremajaan.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) DIY Endang Patmintarsih menyampaikan ironi tersebut.
Tagana merupakan salah satu kelompok yang menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana.
Wilayah DIY yang dianggap sebagai supermarket bencana, mulai dari gempa bumi, tsunami, hingga erupsi selayaknya membuat sarpras tagana ikut diperhatikan.
"Sarpras Tagana khususnya di DIY sudah tua, tetapi mesinnya masih sehat," ucap Endang, saat ditemui Radar Jogja pasca Apel Siaga Bencana HUT ke-22 Tagana tingkat DIY, Kamis (9/4/2026).
Endang mencontohkan, sarpras Tagana berupa truk dapur umum telah berumur lebih dari 20 tahun.
Walau operasionalnya masih bisa digunakan dengan perawatan mesin rutin, potensi kerusakan dapat terjadi sewaktu-waktu.
Padahal kebanyakan sarpras berupa kendaraan milik Tagana merupakan sarana strategis.
Tagana se-DIY di bawah Dinsos biasanya memiliki truk, mobil rescue, tenda darurat, hingga kendaran lain.
Tagana biasanya memiliki tugas saat sebelum terjadi bencana hingga pasca bencana.
Penggunaan sarpras tentu sangat membantu masyarakat secara langsung.
Contohnya, truk dapur yang beroperasi memasak seribu porsi makanan dalam sekali waktu.
"Sudah berumur 20 tahun kalau bisa ada yang baru, terakhir bantuan dari Kemensos motor roda 3," ungkapnya.
Endang menjelaskan, pihaknya berupaya mengusulkan peremajaan sarpras Tagana ke pusat.
Lantaran daerah masih dihadapkan pada efisiensi anggaran.
Di samping itu, setiap kabupaten kota di DIY juga mengalami penurunan anggaran. Akibatnya, peremajaan sarpras tak dimungkinkan terjadi.
Kendati sarpras telah usang, pihaknya menjamin Tagana tetap memberikan ketulusan pelayanan ke masyarakat.
Saat bencana, sarpras yang tak memadai dapat ditambal dengan beragam bantuan.
Pihaknya dapat meminta bantuan ke stakeholder lain. Misalnya, BPBD, Basarnas, hingga Kemensos.
Sementara itu, Bupati Kulon Progo Agung Setyawan menyampaikan, momentum HUT Tagana menjadi penyemangat agar Tagana masih setia berjuang di jalan kemanusian.
Ia mengakui, keterbatasan anggaran menjadi penyebab sarpras tagana tak diremajakan.
"Kemampuan anggaran tidak cukup, yang penting sarprasnya sudah cukup," ungkapnya.
Agung menjelaskan, sarpras tagana dinilai cukup dan tak harus dilebihkan.
Mengingat proporsi anggaran daerah yang terbatas.
Pemkab justru ingin meningkatkan kapasitas Tagana bukan dari segi sarpras melainkan keterampilan.
Tujuannya, agar Tagana memiliki modal penanganan bencana. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva