Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Krisis Guru, Pengajar di SMP Negeri 1 Wates Kulon Progo Mengajar 18 Kelas

Anom Bagaskoro • Rabu, 8 April 2026 | 15:25 WIB
KONSISTEN: Suharyadi tetap semangat walau harus mengajar dari pagi hingga sore hari. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
KONSISTEN: Suharyadi tetap semangat walau harus mengajar dari pagi hingga sore hari. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 

KULON PROGO - Dunia Pendidikan di Kulon Progo menghadapi krisis guru. 

Di SMP Negeri 1 Wates misalnya.

Seorang guru harus mengajar belasan kelas, karena jumlah pengajar yang terbatas.

Guru Olahraga SMP Negeri 1 Wates Suharyadi menceritakan, beban mengajar belasan kelas PNS yang telah mengajar sejak tahun 1997 mengerti pahit manis perjuangan guru.

Utamanya, di tengah krisis kekurangan guru yang berdampak ke dirinya sendiri.

Baca Juga: Hasil ASEAN Futsal Championship 2026 Australia vs Indonesia; Brace Andres Bawa Skuad Garuda Juara Grup B

Dia menganggap apa yang dilakukannya sebagai wujud pengabdian untuk negara dan masyarakat.

"Sekarang mengajar 18 kelas, per minggunya 54 jam," ucap Suharyadi, saat ditemui Radar Jogja, Rabu (8/4/2026).

Suharyadi menjelaskan, awal dirinya mengajar belasan kelas. 

Beberapa tahun lalu, ia memiliki rekan kerja guru olahraga yang dapat membagi beban mengajar.

Namun, guru tersebut akhirnya pensiun tanpa ada tambahan tenaga pendidik.

Baca Juga: Tunggu Gemetar Baru Makan? Ketahui Bahayanya bagi Tubuh dan Metabolisme

Mulai dari situlah, ia resmi menjadi satu-satunya guru Olahraga yang mengampu belasan kelas, mulai dari kelas 7 hingga 9 SMP.

Kesehariannya sebagai guru dengan kelas terbanyak, tentu tak lepas dari kata disiplin.

Setiap paginya, harus di sekolah sebelum pukul 07.00 WIB.

Tujuannya, agar siswa tak menunggu dan langsung melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM). 

"Satu hari bisa enam kelas, dari pagi hingga sore," ungkapnya.

Suharyadi sudah akrab dengan jadwal padat.

Baca Juga: Prediksi Cuaca Kamis 9 April 2026: Awan Tebal hingga Hujan Disertai Petir Guyur Wilayah DIY, Masyarakat Diimbau Waspada

 Dalam satu kali KBM dengan durasi tiga jam dirinya terkadang harus mengampu dua kelas sekaligus.

Jika tak menggunakan skema ini, kelas serta siswanya terancam tak mendapat KBM olahraga.

Lantaran, dalam seminggu waktu sekolah hanya lima hari.

Tentu mengajar dua kelas dalam satu pertemuan tak bisa dibilang gampang.

Bukan berat difisik, tetapi berat ditanggungjawab.

Guru olahraga yang menghabiskan waktu di lapangan harus memastikan setiap siswa mendapat porsi materi yang cukup.

Baca Juga: Tiga Anggota TNI yang Bertugas Menjaga Perdamaian di Timur Tengah Gugur, Begini Temuan awal Investigasi dari PBB

Di samping itu, tanggung jawab keselamatan siswa turut menjadi perhatian guru.

"Anak-anak kalau olahraga siang hari juga kurang optimal," ungkapnya.

Kendati dalam satu kali KBM terdapat dua kelas dengan rata-rata 60 siswa, tak membuat pekerjaannya selesai siang hari.

Bahkan saat terik matahari tepat di atas kepala, KBM olahraga tetap berlanjut. Kondisi ini, cukup disayangkan olehnya.

Kebanyakan siswa memiliki kecenderungan tak dapat berolahraga saat cuaca terik.

Alhasil, Suharyadi menganggap kondisi itu tak optimal.

Baca Juga: Jadwal Lengkap Empat Laga Terakhir PSS Sleman di Pegadaian Championship, Mampukah Super Elja Kembali ke Kasta Tertinggi

Ia memilih KBM saat siang hari dengan tak memaksakan materi ke siswa.

Tujuannya, agar siswa tetap bisa belajar walau kondisi kurang memungkinkan.

Suharyadi mengaku tak bisa berbuat banyak atas kondisi kekurangan guru.

Lantaran, sekolah tak bisa mengangkat honerer. 

Sebenarnya seklah hanya cukup mengangkat satu guru olahraga kembali.

Mengingat idealnya satu gur mengampu sembilan kelas dengan beban waktu ajar 27 jam per minggu.

Baca Juga: Hasil ASEAN Futsal Championship 2026 Australia vs Indonesia; Brace Andres Bawa Skuad Garuda Juara Grup B

 Namun, kebijakan berkata lain.

Sebagai guru yang hampir pensiun, dirinya berharap agar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulon Progo dapat mencarikan solusi.

Mengingat sektor pendiidkan terutama tenaga pengajar masih diperlukan. 

Sementara itu, Kepala Badan Kepegawaian Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kulon Progo Sudarmanto membenarkan, Bumi Binangun kekurangan ASN. 

Dari segi pelayanan hingga pendidikan, tenaga ASN masih tak ideal.

 Hal ini, dipengaruhi laju pensiun dan rekrutmen yang tak seimbang.

"Jumlah pensiun lebih banyak dibanding rekrutmen," ucapnya. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#krisis guru #SMP Negeri 1 Wates #Kulon Progo #dunia pendidikan