KULON PROGO - Dunia Pendidikan di Kulon Progo menghadapi krisis guru.
Di SMP Negeri 1 Wates misalnya.
Seorang guru harus mengajar belasan kelas, karena jumlah pengajar yang terbatas.
Guru Olahraga SMP Negeri 1 Wates Suharyadi menceritakan, beban mengajar belasan kelas PNS yang telah mengajar sejak tahun 1997 mengerti pahit manis perjuangan guru.
Utamanya, di tengah krisis kekurangan guru yang berdampak ke dirinya sendiri.
Dia menganggap apa yang dilakukannya sebagai wujud pengabdian untuk negara dan masyarakat.
"Sekarang mengajar 18 kelas, per minggunya 54 jam," ucap Suharyadi, saat ditemui Radar Jogja, Rabu (8/4/2026).
Suharyadi menjelaskan, awal dirinya mengajar belasan kelas.
Beberapa tahun lalu, ia memiliki rekan kerja guru olahraga yang dapat membagi beban mengajar.
Namun, guru tersebut akhirnya pensiun tanpa ada tambahan tenaga pendidik.
Baca Juga: Tunggu Gemetar Baru Makan? Ketahui Bahayanya bagi Tubuh dan Metabolisme
Mulai dari situlah, ia resmi menjadi satu-satunya guru Olahraga yang mengampu belasan kelas, mulai dari kelas 7 hingga 9 SMP.
Kesehariannya sebagai guru dengan kelas terbanyak, tentu tak lepas dari kata disiplin.
Setiap paginya, harus di sekolah sebelum pukul 07.00 WIB.
Tujuannya, agar siswa tak menunggu dan langsung melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM).
"Satu hari bisa enam kelas, dari pagi hingga sore," ungkapnya.
Suharyadi sudah akrab dengan jadwal padat.
Dalam satu kali KBM dengan durasi tiga jam dirinya terkadang harus mengampu dua kelas sekaligus.
Jika tak menggunakan skema ini, kelas serta siswanya terancam tak mendapat KBM olahraga.
Lantaran, dalam seminggu waktu sekolah hanya lima hari.
Tentu mengajar dua kelas dalam satu pertemuan tak bisa dibilang gampang.
Bukan berat difisik, tetapi berat ditanggungjawab.
Guru olahraga yang menghabiskan waktu di lapangan harus memastikan setiap siswa mendapat porsi materi yang cukup.
Di samping itu, tanggung jawab keselamatan siswa turut menjadi perhatian guru.
"Anak-anak kalau olahraga siang hari juga kurang optimal," ungkapnya.
Kendati dalam satu kali KBM terdapat dua kelas dengan rata-rata 60 siswa, tak membuat pekerjaannya selesai siang hari.
Bahkan saat terik matahari tepat di atas kepala, KBM olahraga tetap berlanjut. Kondisi ini, cukup disayangkan olehnya.
Kebanyakan siswa memiliki kecenderungan tak dapat berolahraga saat cuaca terik.
Alhasil, Suharyadi menganggap kondisi itu tak optimal.
Ia memilih KBM saat siang hari dengan tak memaksakan materi ke siswa.
Tujuannya, agar siswa tetap bisa belajar walau kondisi kurang memungkinkan.
Suharyadi mengaku tak bisa berbuat banyak atas kondisi kekurangan guru.
Lantaran, sekolah tak bisa mengangkat honerer.
Sebenarnya seklah hanya cukup mengangkat satu guru olahraga kembali.
Mengingat idealnya satu gur mengampu sembilan kelas dengan beban waktu ajar 27 jam per minggu.
Namun, kebijakan berkata lain.
Sebagai guru yang hampir pensiun, dirinya berharap agar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulon Progo dapat mencarikan solusi.
Mengingat sektor pendiidkan terutama tenaga pengajar masih diperlukan.
Sementara itu, Kepala Badan Kepegawaian Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kulon Progo Sudarmanto membenarkan, Bumi Binangun kekurangan ASN.
Dari segi pelayanan hingga pendidikan, tenaga ASN masih tak ideal.
Hal ini, dipengaruhi laju pensiun dan rekrutmen yang tak seimbang.
"Jumlah pensiun lebih banyak dibanding rekrutmen," ucapnya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva