KULON PROGO - Istri Praka Farizal Rhomadhon, Fafa Nur Azila tiba di rumah duka, Padukuhan Ledok, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kamis (2/4). Isak tangis pun pecah di tengah duka mendalam kematian prajurit TNI di Lebanon saat menjalankan misi perdamaian.
Fafa datang menggunakan kendaraan mobil didampingi keluarga serta Persit. Bersama anaknya berusia dua tahun, ia keluar dari dalam mobil. Sesaat cukup hening, namun ia menahan kesedihan mendalam. Kesedihannya tak terbendung setelah melihat ibunda Farizal yang datang menyambut.
Mereka berangkulan. Fafa maupun ibunda Farizal sama-sama tak mampu menahan tangis. Lantaran keduanya mengingat sosok Farizal yang gugur setelah insiden serangan artileri Israel itu. Mereka adalah orang yang paling banyak berduka ditinggal Praka Farizal.
Komandan Brigif 25/ Siwah Kodam Iskandar Muda Kolonel Inf Dimar Bahtera menjelaskan, istri Praka Farizal sebelumya menempuh penerbangan dari Aceh, transit Medan, hingga mendarat di Yogyakarta International Airport (YIA). "Dari Aceh tadi pagi, landing pukul 09.10 WIB," ungkapnya, Kamis (2/4).
Dimar menyampaikan, selama penerbangan Fafa ditemani danion, perwira batalion, dan sejumlah Persit. Persit sengaja diminta untuk mendampingi Fafa. Prajurit TNI juga disiagakan di sekitar rumah duka untuk persiapan menyambut jenazah ataupun upacara pemakaman.
Selain Fafa dan anaknya, keluarga dari Kebumen juga turut hadir memberikan dukungan moril. Bahkan keluarag dari Kebumen berencana tetap tinggal hingga jenazah Praka Farizal tiba di Kulon Progo. "Hari ini kepastian PBB dilaksanakan upacara pelepasan," ungkapnya.
Jenazah Praka Farizal sendiri saat ini masih berada di Lebanon. Sebelumnya, tahapan otopsi telah dilakukan di Beirut, ibu kota Lebanon. Tahapan PBB selanjutnya berupa upacara pelepasan secara militer dan keluar dari Lebanon.
Dijadwalkan jenazah diberangkatkan dari Lebanon, Jumat (3/4). Jenazah terlebih dahulu dibawa ke Istanbul, Turki. Mengingat kondisi penerbangan sipil di Lebanon ditutup.
Dari Turki jenazah dipulangkan ke Tanah Air dengan tujuan Bandara Soekarno Hatta. Jenazah akan mendapat upacara penghormatan di Jakarta, kemudian baru diterbangkan ke YIA.
Pihak keluarga melalui Muhammad Fitra Abdul Aziz, kakak ipar Praka Farizal menaruh harapan ke pemerintah untuk mengusut insiden serangan ini. Pemerintah memiliki kewenangan untuk mendapat informasi tentang gugurnya prajurit TNI yang sedang dalam misi perdamaian.
"Harapannya ada investigasi, pemerintah dapat melobi PBB," ucap Fitra saat ditemui awak media di rumah duka, Kamis (2/4).
Ia menjelaskan, kematian adik iparnya saat bertugas di area yang seharusnya tanpa serangan harus diusut. Pengusutan juga harus berlandaskan transparansi. Mengingat kewenangan PBB sebagai koordinator pasukan perdamaian akan dipertaruhkan, apabila tak transparan.
Di samping itu, pertimbangan keluarga mengarah ke psikologi anak Praka Farizal. Saat ini, Farizal memiliki anak yang baru berumur dua tahun. Saat dewasa nanti, tentu anaknya akan mempertanyakan penyebab gugurnya sosok pelindung keluarga. "Kalau jelas, anak bisa bangga jika ayahnya sosok pahlawan yang menjaga perdamaian," ujarnya.
Selain permintaan investigasi, keluarga dari Fafa Nur Azila turut meminta proses pemulangan jenazah dapat disegerakan. Hingga kini pihak kedua keluarga belum memgang jadwal kepulangan pasti dan masih menunggu informasi itu.
Sementara itu, Kolonel Inf Dimar Bahtera juga menjelaskan, Mabes TNI memberikan penghargaan atas dedikasi Praka Farizal. Melalui surat keputusan Panglima TNI, Farizal mendapat kenaikan pangkat dari Praka menjadi Kopral Dua (Kopda). "Karena gugur dalam tugas, memiliki hak dimakamkan di TMP," ungkapnya. (gas/laz)