KULON PROGO - Ungkapan kasih ibu sepanjang masa tergambar jelas dalam diri Deni Rianingsih, 41, warga Kalurahan Salamrejo, Kapanewon Sentolo yang rela menghabiskan hidupnya untuk merawat anak. Kisahnya berawal saat anak sulungnya Ananda Yue Riastanto,16, digigit ular sembilan tahun lalu.
Di sebuah rumah berdinding batako tanpa polesan cat atau keramik, tinggal sebuah keluarga. Rumah itu terletak di Padukuhan Dhisil, Kalurahan Salamrejo yang ditinggali sebuah keluarga yang tak pernah habis rasa sabar mereka. Di balik dinding batako itu, ada seorang perempuan paruh baya yang teliti menyuntikkan cairan putih berupa susu ke dalam selang.
Selang itu masuk ke dalam hidung seorang remaja yang terbujur kaku. "Setiap hari mengurus anak, memandikan hingga menyuntikkan susu ini," ucap perempuan itu, Senin (16/3).
Sosok perempuan itu ialah Deni Rianingsing atau akrab disapa Ria. Sudah sembilan tahun ia menjalani rutinitasnya sebagai ibu yang merawat anaknya akibat gigitan ular berbisa. Ingatannya masih tergambar jelas, awal mula musibah yang menimpa anak sulungnya.
Pada 5 Januari 2017, putra sulung Ria mendapat gigitan ular berbisa saat sedang tidur. Malam itu Nanda, putranya mendatangi kamar sambil menangis karena gigitan ular. Melihat kondisi itu, Ria dan suaminya bergegas ke RSUD Wates agar anaknya mendapat pertolongan.
Sesampai di RSUD Wates gejala gigitan ular baru terlihat. Nanda mengalami mual hingga sesak napas dan hilang kesadaran. Beruntung tim medis dapat menyelamatkan Nanda dengan pertolongan awal. Nanda lantas mendapat rujukan dan dirawat di RSUP Dr Sardjito selama 32 hari.
Akan tetapi, perawatan di sana tak membuat Nanda kembali pulih seperti semula. "Diagnosis dokter ada kerusakan otak besar, yang jadi penyebab kelumpuhan," ungkapnya.
Kondisi kelumpuhan itu menyebabkan Nanda kehilangan masa kanak-kanak hingga waktu mendapat pendidikan. Bahkan saat menginjak masa remaja, Nanda tak mendapat kenangan bersama teman-temannya. Namun, di balik itu semua kasih sayang orangtua tetap melindungi Nanda.
Ria awalnya sempat menyalahkan kejadian gigitan ular yang menimpa anaknya. Namun, lama kelamaan rasa itu mulai memudar menjadi rasa berjuang untuk memberikan perawatan ke anaknya. Bahkan dengan situasi keluarganya, yang masuk keluarga miskin Ria tetap berjuang bersama suaminya. "Capek itu pasti, tapi yang membuat semangat ya Nanda sendiri," ujarnya.
Ria mengaku semangatnya muncul saat melihat Nanda yang terbujur kaku. Dengan perawatan seadanya, ia melihat perkembangan penyembuhan Nanda yang kian membaik. Bahkan kini Nanda mulai dapat diajak berkomunikasi dengan isyarat. (laz)