Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tinggalkan Cara Konvensional, Petani Lansia Karangwuni Sukses Budidaya Melon Premium dengan Teknologi

Anom Bagaskoro • Minggu, 1 Maret 2026 | 05:05 WIB

 

Sujarwo menunjukkan buah melon premium berukuran jumbo di greenhouse kelompoknya
Sujarwo menunjukkan buah melon premium berukuran jumbo di greenhouse kelompoknya
 

Urusan teknologi tak hanya digeluti anak muda saja. Kelompok umur dewasa hingga lansia juga memiliki kesempatan yang sama. Hal ini ditunjukkan dengan pengembangan budidaya melon yang ditekuni Kelompok Tani Sanggar Kalurahan Karangwuni.

Ketua Kelompok Tani Sanggar Karangwuni Sujarwo menyampaikan, pendirian kelompok telah terjadi sejak 10 tahun lalu. Akan tetapi, kelompoknya masih berfokus pada pertanian konvensional pesisir pantai.

"Sebelumnya kami sudah mengolah lahan pesisir, untuk pertanian cabai, melon, dan semangka," ucap Sujarwo, saat ditemui Radar Jogja, Jumat (27/2).

Sujarwo menjelaskan, anggota kelompoknya merupakan petani lahan pesisir dan sebagian besar masuk usia 50 tahun. Umur yang semakin tua, tak membuat mereka kehilangan semangat. Justru dengan kondisi tubuh yang tak sekuat waktu muda, anggota kelompok memiliki tekad baru.

Alih-alih pensiun, kelompoknya justru menggagas inovasi dalam pertanian. Tujuannya, agar kerja petani lebih mudah dan mendapatkan hasil setidaknya sama dengan dahulu kala. Pemikiran mereka lantas dikerjakan dengan melakukan riset secara sederhana.

Berkat kejelian dan semangat untuk maju, kelompok mereka mulai menemukan jalan pertanian yang lebih ideal. Metodenya dengan pertanian greenhouse, dan sistem fertigasi tetes.  "Kami mengusulkan dan mendapat bantuan modal greenhouse dan perlengkaoannya," ujarnya.

Impian kelompok tani sempat terganjal masalah dana. Lantaran, untuk mendirikan greenhouse dan perlengkapannya butuh dana ratusan miliar rupiah. Tak ingin berpangku tangan, kelompok tani lantas mengusulkan ke Pemkab Kulon Progo untuk mendukung kegiatan mereka.

Menggunakan sistem sharing pendanaan, impian kelompok mulai terwujud di pertengahan 2025 lalu. Kelompoknya berhasil melakukan budidaya melon premium dengan adapatasi teknologi.

"Pekerjaannya jadi lebih mudah, tidak perlu siram semuanya sudah dikontrol melalui sistem," ungkapnya.

Metode fertigasi kombinasi teknologi memaatikan budidaya melon dapat optimal. Lantaran, petani tak perlu mengeluarkan banyak keringat. Di sisi lain, waktu perawatan lebih singkat dan memberikan keuntungan bagi petani.

Berkat itu, setiap panen kelompok tani mampu menghasilkan enam kwintal melon di satu greenhouse. Harga melon budidaya kelompok tani juga dibanderol dengan nominal tinggi, Rp 30 ribu pe kilogram. Alhasil, anggota kelompok ikut kecipratan untungnya. (gas/pra)

Editor : Heru Pratomo
#Kulon Progo #karangwuni #greenhouse #Melon #wates