Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hujan Deras di Kulon Progo Sebabkan Irigasi Sekunder Kalibawang Jebol, 112 Hektare Sawah Terancam Gagal Panen

Anom Bagaskoro • Rabu, 18 Februari 2026 | 14:51 WIB


ROBOH: Personel Kampung Siaga Bencana Banyuroto meninjau talud irigasi yang ambrol. 
ROBOH: Personel Kampung Siaga Bencana Banyuroto meninjau talud irigasi yang ambrol. 

KULON PROGO - Dampak hujan lebat dengan intensitas tinggi, menyebabkan saluran irigasi sekunder Kalibawang Kalurahan Banyuroto, Kapanewon Nanggulan, Kulon Progo jebol.

Akibatnya, 112 hektare sawah terancam gagal panen.

"112 hektare itu berada di dua kalurahan enam padukuhan," terang Lurah Banyuroto Sudalja, Rabu (18/2/2026).

Dua kalurahan itu berada di Banyuroto dan Donomulyo.

Saluran tersebut berstatus irigasi sekunder yang sumbernya berasal dari Saluran Irigasi Promer Kalibawang.

"Jebolnya Senin dini hari, (16 Februari, Red) lalu, efek dari hujan deras," imbuh Sudalja.

Sudalja menjelaskan, saluran irigasi jebol akibat dua sisi dinding saluran ambrol.

Sisa material pasangan batu, juga menutup aliran air.

Pihaknya menduga, saluran jebol karena debit air hujan yang tinggi.

Sebab, hujan deras terus mengguyur wilayahnya selama beberapa hari terakhir.

Limpahan air dari pemukiman warga menyebabkan aliran air deras dan erosi di bagian dinding irigasi selebar dua meter.

"Kalau yang jebol dua sisi panjang sekitar 30 meter," ucapnya.

Menurutnya, saluran jebol bukan kali pertama.

Beberapa waktu lalu, hal seripa terjadi.

Kendati begitu dampaknya tak terlalu signifikan.

Hanya kerusakan kecil di ujung saluran sekunder, yang segera mudah diperbaiki.

Pihaknya berharap agar pemerintah segera melakukan perbaikan.

Jika tidak segera diperbaiki, maka 112 hekatare lahan persawahan terancam gagal panen.

Sebab, saluran air yang jebol, tidak mampu manjangkau lahan pertanian lebih luas.

Apalagi ini memasuki musim mrekatak, dimana bulir-bulir padi mulai terisi dan siap menguning, tentunya padi membutuhkan air untuk masa panen.

"Ini memasuki masa padi mrekatak (biji padi mulai keluar), masih butuh air walau sedikit," ungkapnya.

Apabila, pasokan air tersendat, bulir padi tak terisi dan petani terancam gagal panen.

Selain menjelang masa panen, pertimbangan pasokan air berkaitan dengan masa tanam kedua.

Pasokan air terbatas, membuat petani dimungkinkan tak melakukan penanaman. Alhasil, petani gigit jari akibat tak mampu bercocok tanam.

Terpisah, Kepala BPBD Kulon Progo Setiawan Tri Widada mengatakan bencana hidrometorologis masih terasa di Bumi Binangun.

Salah satu dampaknya, fasilitas pengairan menjadi terganggu.

Fokus penanganan saat ini berupa perbaikan fasilitas yang berhubungan langsung dengan masyarakat.

"Ini curah hujan cukup lebat, jadi beberapa titik bencana bermunculan," ungkapnya.

Penanganan kasus irigasi jebol dilakukan dengan membuat saluran irigasi sementara.

Caranya, aliran air irigasi disalurkan melalui pipa khusus.

Selama itu pula, Pemkab Kulon Progo mengupayakan pengusulan perbaikan ke Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO). (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Irigasi Jebol #Kulon Progo #BBWSSO #terancam gagal panen #irigasi #Pemkab Kulon Progo #hujan deras #sawah #Irigasi Sekunder Kalibawang Jebol #Banyuroto