Ketimbang fokus ke hal-hal yang bersifat simbolis, Bupati Kulon Progo Agung Setyawan diminta fokus terkait penanganan jumlah kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Di DIJ hingga saat ini, total ada 194 kasus. Paling banyak ditemukan di Kulon Progo.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIJ Aris Eko Nugroho mengatakan 194 kasus PMK menyerang hewan ternak baik sapi maupun kambing.
Detail sebarannya yakni 78 kasus ditemukan di Sleman, 24 di Bantul, satu di Gunungkidul dan 91 di Kulon Progo. "Paling banyak itu di Kulon Progo," ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (12/2).
Menurutnya, penyebab meningkatnya kasus PMK tersebut dikarenakan vaksinasi di tahun sebelumnya kurang maksimal. Selain itu, faktor lainnya adalah adanya mobilitas hewan ternak dari daerah lain. "Total ada enam hewan yang terpantau mati," bebernya.
DPKP DIJ saat ini sedang menggalakkan vaksinasi hewan ternak sebagai langkah pencegahan penularan PMK. 30 ribu dosis vaksin tahap pertama telah dikirimkan dari provinsi ke beberapa daerah tersebut. "Sebagian hewan ternak sudah divaksin. Stok vaksin pun aman," jelasnya.
PMK merupakan salah satu virus akut yang sangat menular pada hewan berkuku belah atau genap seperti sapi, kerbau, kambing, domba dan babi.
Penyakit tersebut ditandai dengan lepuh pada mulut atau lidah dan kuku, demam tinggi, serta liur berlebih."Jika dilihat dari data, tingkat kesembuhannya saat ini sudah lebih dari 48 persen," tandasnya.
Ketika dikonfirmasi, Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. drh. Tri Wulandari K., M.Kes., mengatakan, vaksinasi PMK direkomendasikan ketika terjadi wabah. Vaksin itu bukan penanganan rutin di wilayah yang telah dinyatakan bebas PMK.
Menurut dia, vaksin PMK dapat menurunkan tingkat keparahan gejala, tetapi tidak sepenuhnya mencegah infeksi.
“Hewan yang sudah divaksin masih mungkin terinfeksi, hanya saja gejalanya lebih ringan atau bahkan tanpa gejala,” jelasnya.
Pemahaman tersebut, lanjutnya, penting diketahui peternak bahwa vaksin tidak bisa sepenuhnya membuat ternak kebal virus. Pengendalian yang dilakukan seharusnya tidak hanya bertumpu pada vaksinasi, namun pada penguatan sistem biosekuriti di tingkat peternakan.
Pengelolaan kesehatan hewan yang disiplin dan kebersihan kandang menjadi kunci utama mencegah kemunculan kembali wabah.
Jika hewan dalam kondisi sehat dan lingkungan terjaga, imunitas tubuh dapat melawan infeksi secara alami. “Hingga saat ini belum ada obat yang dapat membunuh virus PMK, sehingga penguatan imunitas melalui manajemen kesehatan yang baik sangat penting,” ujarnya. (oso/pra)
Editor : Heru Pratomo