Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Usai “Birukan” ASN, Bupati Kulon Progo Terbitkan SE Ganti Cat Pagar Sekolah Jadi Warna Kuning Hijau Pare Anom

Anom Bagaskoro • Kamis, 12 Februari 2026 | 20:21 WIB

 

 

foto sebelum dan sesudah pagar dan gapura SDN 2 Pengasih, Kulon Progo, masih terpampang motif geblek renteng.
foto sebelum dan sesudah pagar dan gapura SDN 2 Pengasih, Kulon Progo, masih terpampang motif geblek renteng.

 

KULON PROGO- Selama dua bulan terakhir, Bupati Kulon Progo Agung Setyawan terus disibukan dengan urusan warna. Usai “membirukan” Kulon Progo dengan mengganti seragam aparatur sipil negara (ASN) coklat khaki menjadi biru muda setiap Selasa, kini Agung melanjutkan agenda dehastoisasi. Menghapus simbol geblek renteng dari pagar, gerbang, dan  gedung sekolah.

“Mengecat dengan warna kuning dan hijau pare anom (hijau muda). Warna kuning dan hijau pare anom melambangkan kesuburan, harapan, kemakmuran dan kesejahteraan,” tulis Agung dalam surat edaran (SE) Nomor 100.3.4/2/034/2026 yang mulai beredar luas di berbagai kalangan Kamis (12/2).

Dengan adanya SE tersebut, sekolah yang pagar maupun gerbangnya masih ada simbol geblek renteng peninggalan era Bupati Hasto Wardoyo bakal hilang. Tak ada lagi jejak dan bekasnya. Digantikan  warna kuning dan hijau pare anom. Terbitnya SE itu menjadi satu rangkaian dari kebijakan Agung sebelumnya.

Motif geblek renteng selama belasan tahun menjadi batik identitas daerah. Dikenakan ASN, perangkat desa, dan pelajar se-Kulon Progo. Kini setiap Kamis mereka tak lagi memakai batik geblek renteng. Berganti dengan batik motif Binangun Kertaraharja. Batik yang diciptakan di masa Agung berkuasa.

Kembali ke pagar dan gerbang sekolah, yang menjadi sorotan Agung antara lain SD Negeri 2 Pengasih, Kalurahan Margosari. Terlihat jelas motif geblek renteng di bagian depan sekolah. Ada kombinasi gunungan dan simbol dua geblek. Menyerupai angka 88.

Saat berpidato di depan para kepala sekolah, Agung tak bisa menyembunyikan kerisauannya. Melihat motif geblek renteng yang terpampang di SD Negeri 2 Pengasih . Bupati menyampaikan kritik keras. Dia bakal bertindak tegas. Mencopot kepala sekolah dari jabatannya.

 "Eee, kok ana SD sing gapurone dilonthang-lantheng warnane (Eee, kok ada SD yang gapuranya dicat warna-warni, Red). Kalau tidak segera diganti, nanti saya ganti kepala sekolahnya," ucap Agung.

SE bupati ditujukan kepada kepala sekolah TK/RA/sederajat, kepala sekolah SD/MI/sederajat dan kepala sekolah SMP/MTs/sederajat se-Kulon Progo. Sebelum beredarnya SE itu, saat memberikan pengarahan di depan para kepala sekolah SD dan SMP dalam acara peluncuran bahan ajar di aula Adikarta Kompleks Pemkab Kulon Progo pada Kamis (5/2) lalu, Agung sempat menyinggungnya.

Dia berencana mengeluarkan SE guna mengatur perubahan warna cat pagar sekolah.   Namun saat menilik tanggal SE,  tertulis keterangan Wates 5 Januari 2026. Artinya sebulan sebelum Agung bicara di depan para kepala sekolah, SE itu sudah ditandatangani.

Baca Juga: Tolak Tambang Pasir, Warga Sambeng Magleang Bawa Durian-Palawija ke Kantor Dewan

Tajuk dari SE bupati itu berisi tentang pedoman tata naskah dinas dan implementasi semboyan Binangun pada satuan pendidikan. Namun materinya ternyata gado-gado. Mengatur banyak hal. Pertama, tata naskah dinas. Kedua, pakaian dinas ASN. Ketiga, implementasi filosofi dan logo Binangun. Keempat, pemasangan foto pejabat negara dan daerah.

Selain memasang foto Presiden dan Wapres RI, sekolah juga memasang foto Gubernur DIJ Hamengku Buwono X dan Wagub DIJ Paku Alam X. Ditambah foto Agung sebagai bupati dan wakilnya Ambar Purwoko.

“Memasang foto pejabat dengan tatanan yang terhormat sebagai wujud penghormatan kepada pemimpin bangsa dan daerah,” demikian bunyi SE bupati tersebut.

Kelima, menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap hari sekolah pada pukul 10.00. Tentang warna kuning dan hijau pare anom, Agung menjelaskan sebagai implementasi semboyan Binangun di lingkungan satuan pendidikan.

Semboyan Binangun merupakan jiwa dan roh pembangunan Kulon Progo. “Mengandung delapan nilai luhur yang menjadi pondasi peradaban Kulon Progo,” terangnya.

Meski mengatur sejumlah kewajiban, termasuk mengubah warna cat sekolah, Agung dalam SE itu tidak sedikitpun menyinggung soal anggaran. Dibebankan kepada sekolah. Sama seperti saat pengadaan seragam biru dan batik Binangun Kertaraharja, Pemkab Kulon Progo tak mau cawe-cawe menanggung biayanya. Semua dikembalikan ke sekolah.

Masih terkait SE dan ancaman pencopotan kepala sekolah, SD Negeri 2 Pengasih mulai bergerak cepat.Warna cat pagar dan gapura sekolah mulai dibersihkan dari simbol geblek renteng. Beberapa pekerja terlihat menggosok tembok pagar sekolah, kemarin.

Di sisi lain, salah satu tokoh masyarakat Girimulyo, Kulon Progo, Istana SH, MIP, ikut menyoal pengarahan Bupati Agung Setyawan saat peluncuran buku bahan ajar. Istana telah mendengarkan rekaman pidato bupati. Dia menyindir pidato bupati luar biasa. “Ngomongnya tidak politis, tapi esensinya politis," ujar Istana kemarin.

Dikatakan, pernyataan bupati yang menolak dipolitisasi, kenyataannya tak sejalan dengan sambutannya. Pidato Agung dinilai sarat muatan politik. Salah satunya, terkait tudingannya terhadap motif geblek renteng yang dianggapnya tak sesuai dengan Kulon Progo.

Apalagi kemudian mengkaitkan antara penetapan geblek renteng sebagai identitas daerah dengan kehadiran Gubernur DIJ Hamengku Buwono X di Kulon Progo. “Itu sangat bernuansa politis. Bisa diperdebatkan dengan data,” kata pria berlatar belakang dosen ini.

Unsur politis lainnya berkaitan dengan ancaman pencopotan kepala sekolah. Bila itu direalisasikan bakal menabrak banyak regulasi. Diingatkan, geblek renteng telah menjadi motif batik yang mengakar di masyarakat. Itu simbol gotong royong banyak elemen.

Baca Juga: Gerakan Korvei Kebersihan Reguler Segera Digelar Besok, Menyasar Objek Wisata hingga Lingkungan Terdekat

“Simbol geblek renteng tidak perlu ditakutkan. Setiap pemimpin harusnya takut dengan rakyat yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya,” ingat mantan anggota DPRD Kulon Progo ini.

Selama setahun Agung memimpin, Istana menanti realisasi menunggu program yang menyentuh kebutuhan rakyat. Dari catatannya hampir setahun memimpin,  tak ada program yang menunjukkan prestasi membanggakan dari kinerja bupati.

Mantan Ketua Dewan Kebudayaan Kulon Progo Imam Syafii mengulas kepemimpinan yang selalu salah data dalam menentukan kebijakan. Apalagi kalau kesalahan itu bersifat fundamental. “Pasti berbahaya. Ibarat main bola bisa gol bunuh diri,” ulas Imam. (gas/kus)

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Heru Pratomo
#Binangun Kertoraharjo #Seragam ASN #Agung Setyawan #Cat Sekolah #bupati kulon progo #Geblek Renteng #SE Bupati #Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X #sd