KULON PROGO - Penanaman perdana melon Blues Lavender di Kalurahan Bugel, Kapanewon Panjatan, Kulon Progo akhirnya membuahkan hasil.
Sejak ditanam pada Agustus 2025 lalu, kini panen perdana.
Kelompok Tani Gisik Pranaji pun sumringah, melon premium yang mereka tanam kini siap penen.
Pengurus Kelompok Tani Gisik Tri Erfin menjelaskan, penananman melon premium ini merupakan bantuan dari Pemkab Kulon Progo berkolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Bantuan senilai Rp 350 juta itu digelontorkan dalam wujud greenhouse, alat pertanian terintegrasi, hingga media sarpras pertanian melon premium.
"Bantuannya greenhouse ukuran 300 meter persegi, alat fertigasi, dan sistem penyuplai nutrisi," ucap Erfin, saat ditemui awak media, Jumat (30/1/2026).
Erfin menyampaikan, di dalam greenhouse tersebut ditanam sebanyak 1.500 tanaman melon.
Panen Melon Premium
Erfin berujar, setiap satu pohon menghasilkan satu buah melon lezat dengan berat satu hingga dua kilogram (kg).
Diprediksi panen perdana ini, mampu menghasilkan 2-3 ton buah melon segar.
Dekan Sekolah Vokasi UGM Agus Maryono menjelaskan, bantuan merupakan hasil penelitian dari akademisi.
Kemudian melalui Kemendikti dan LPDP hasil penelitian diarahkan ke pemberdayaan masyarakat dengan wujud bantuan.
"Ini hasil pengembangan smart agri, dengan integrasi teknologi Informasi Internet atau IoT," ucapnya.
Bantuan sarpras memastikan pertanian berjalan optimal.
Keistimewaan
Melalui greenhouse, petani diajak lebih menghemat lahan dengan hasil optimal.
Apabila dibandingkan dengan pertanian hamparan, pertanian melon greenhouse memiliki hasil tiga kali lipat.
Di samping itu, hasil panen memiliki kualitas premium.
Berpeluang masuk ke mini market hingga supermarket.
Melon premium memiliki keunggulan manis alami kaya nutrisi.
Harganya pun lebih mahal dari melon pada umumnya.
Agus berharap sistem pertanian sekaligus bantuan teknologi pertanian ini dapat memberikan edukasi, teknik menanam melon yang berbeda dari biasanya.
Melalui teknologi yang efisen dan minim waktu, diharapkan dapat menjadi inspirasi anak muda untuk bertani.
"Kami mencari masyarakat yang siap menerima bantuan, juga yang mau belajar," ujarnya.
Agus menjelaskan, bantuan teknologi pertanian menyasar kelompok tani yang dianggap siap.
Di Kalurahan Bugel contohnya. Para petani memiliki pengalaman dalam membudidayakan melon ataupun semangka.
Selain itu, anggota kelompok juga memiliki pengalaman dalam teknologi pertanian secara sederhana.
Langkah pemilihan kelompok penerima ini dianggap tepat sasaran.
Lantaran, hasil panen sesuai dengan prediksi dari penelitian.
Kelompok tani juga memanfaatkan momentum panen untuk meningkatkan nilai penghasilan melalui wisata petik buah. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva