KULON PROGO - Angka kasus tuberkolosis (TBC) di Kulon Progo terus melonjak dalam tiga tahun terakhir.
Pada 2023, mencapai 289 kasus.
Pada 2024, angkanya terus naik hingga 342 kasus dan pada 2025, bergerak cepat menjadi 429 kasus.
Melihat angka tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo hendak menambah cakupan tracing untuk memutus rantai penularan dari penderita.
Pasalnya, persebaran TBC cukup masif, dari sisi penderitanya tak banyak merasakan gejala ataupun keluhan.
"Strateginya dengan menambah cakupan tracing atau penelusuran, memastikan targetnya," terang Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo Susilaningsih, Jumat (30/1/2026).
Susi menjelaskan, penanganan kasus TBC harus berawal dari rantai penularan.
Penelusuran TBC idealnya mencakup populasi yang luas.
Jika ditemukan satu penderita, idealnya penelusuran penularan dilakukan dengan manargetkan populasi delapan hingga orang terdekat dari penderita.
Tujuannya, memastikan setiap orang dengan kontak erat dapat mendapat perawatan.
"Tahun 2025 penelusuran masih 44 persen dari penderita," ucapnya.
Penelusuran penyebaran TBC di Kulon Progo belum berjalan ideal.
Pasalnya dari target ideal delapan orang, baru satu atau dua orang terdekat penderita TBC yang menjadi cakupan penelusuran.
Alhasil, tindakan deteksi dini, pengobatan, hingga pencegahan tak berjalan optimal.
Penelusuran TBC selalu terkendala dengan investigasi orang terdekat dari penderita.
Paslanya, prang terdekat seringkali tak merasakan gejala TBC.
Hal ini juga diperparah dengan kesadaran masyarakat untuk memeriksa kondisi mereka.
Tenaga kesehatan juga kesulitan mendapatkan sampel dahak yang berkualitas dari penderita.
Mengatasi kondisi itu, Dinas Kesehatan segera menambah cakupan penelusuran.
Targetnya, satu penderita empat atau lima orang ikut ditelusuri.
Angka ini dinilai optimal, mengingat rata-rata jumlah anggota keluarga dalam satu KK berisi empat sampai lima orang.
Pihaknya juga menyiapkan mekanisme jemput bola penelusuran pada keluarga penderita TBC.
Tujuannya, untuk mengejar target pemeriksaan.
Sebelumnya, Wamenkes RI Benjamin Paulus menyebut Indonesia menempati urutan kedua di dunia kasus tuberkolosis terbanyak setelah India.
Akan tetapi secara kuantitasnya, Indonesia bisa menempati urutan pertama.
Lantaran, kasus TBC ditemukan 386 pasien per 100 ribu penduduk.
Sedangkan di India hanya 190 pasien per 100 ribu penduduk.
"Itu karena jumlah penduduk Indonesia lebih sedikit dibanding India, padahal kalau hitungan per seratus ribu kita lebih banyak," ungkapnya.
Dokter spesialis paru ini menyinggung penanganan TBC belum efektir.
Di Era Prabowo, penanganan TBC akan dioptimalkan.
Salah satunya dengan penelusuran penderita TBC.
Program yang disediakan pemerintah pusat berupa cek kesehatan gratis untuk memastikan penelusuran TBC. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva