KULON PROGO - Pemkab Kulon Progo mendesak program makan bergizi gratis (MBG) menggunakan produk lokal.
Melalui kegiatan Business Matching, pemkab mempertemukan SPPG dengan KDMP dan UMKM Lokal.
Bupati Kulon Progo Agung Setyawan menjelaskan, business matching merupakan upaya pemkab memfasilitasi pelaku UMKM dan KDMP.
Tujuannya, agar mereka dapat menyuplai kebutuhan pangan untuk SPPG penyedia MBG.
"Ini kami pertemukan dengan SPPG, kami sesuaikan dengan komoditasnya," ucap Agung, saat ditemui awak media pasca business matching di Aula Adikarto, Rabu (28/1/2026).
Agung menjelaskan, UMKM dan KDKMP dianggap mampu menyuplai bahan pangan segar ataupun olahan ke SPPG.
Sehingga, pemkab memfasilitasi pertemuan.
Dalam pertemuan, setiap komoditas dikelompokkan.
Terdapat komoditas bahan pangan segar, berupa sayur, daging, telur, beras, hingga ikan.
Terdapat juga produk olahan pangan, berupa tahu, tempe, hingga aneka makanan lain.
Melalui pengelompokan dan pertemuan, SPPG diminta mengamati setiap produk serta berdiskusi dengan pelaku usaha.
Diharapkan, setiap SPPG dapat bekerjasama dengan satu UMKM atau KDKMP.
Sebenarnya, sejumlah SPPG telah menjalin kerjasama dengan pelaku usaha lokal.
Dengan business matching, kerjasama yang ada dapat dilanjutkan, serta terdapat pengesahan legalitas.
Termasuk perjanjian kontrak yang diawasi oleh OPD agar kerjasama saling menguntungkan.
"Kami temukan sudah ada yang bekerjasama, jadi tinggal memperkuat kerjasama," ungkapnya.
Agung menegaskan, siklus program MBG sebenarnya berjalan bersamaan dengan KDKMP.
KDKMP memiliki peran sebagai pemasok bahan pangan.
Namun, karena belum banyak KDKMP yang beroperasi pemkab menyodorkan pelaku UMK untuk diserap produknya.
Tentu langkah ini memiliki tantangan tersendiri, pasalnya menyuplai kebutuhan SPPG perlu kualitas, kuantitas, serta keberlanjutan.
Melalui business matching, pelaku usaha didorong untuk mengembangkan bisnis untuk mengejar kuantitas serta keberlanjutan.
Dalam kegiatan itu, pelaku usaha dipertemukan dengan bank pendamping.
Sementara itu, pelaku UMKM Trisnawati menyambut baik business matching.
Pasalnya, bolu olahannya sama sekali belum dilirik SPPG.
Padahal, bolunya dapat digunakan sebagai kudapan pada menu MBG kering.
"Ini bisa digunakan untuk menu MBG kering, dan kami siap menyuplai," ujarnya.
Trisna mengaku siap untuk menyuplai kudapan menu MBG.
Lantaran, setiap harinya produksi bolu mencapai seribu buah.
Tentu kualitasnya bisa dijamin, karena produksi bolu biasanya digunakan untuk hajatan. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva