KULON PROGO – Berdasarkan hasil indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH) 2025, Sungai Serang menunjukkan adanya cemaran tinja manusia hingga fosfat.
Sungai ini menjadi salah satu temuan paling tercemar dari sembilan sungai yang diteliti Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulon Progo.
Kepala DLH Kulon Progo Duana Heru Supriyanta mengatakan, terdapat sembilan sungai yang diukur kualitas air, udara, dan tutupan lahannya. Salah satu yang disoroti, adalah Sungai Serang.
Lantaran, temuan cemaran dalam perairan cukup tinggi. Didapati tiga pencemaran yang dapat ditemukan di perairan Sungai Serang.
"Ada beberapa komponen yang kami teliti, salah satunya kualitas air utamanya perairan," kata Duana, Senin (26/1/2026).
DLH Kulon Progo mengambil sampel cemaran dari perairan dengan lokasi acak. Terdapat 10 lokasi pengambilan sampel, dan seluruhnya ditemukan zat cemaran serupa. Cemaran pertama ditemukan zat fosfat melebihi ambang batas 0,20 mg/l.
Baca Juga: Cukup di Kebumen Tak Perlu ke Magelang, RSDS Kebumen Jadi IPWL Siap Rehabilitasi Pecandu Narkoba
Cemaran fosfat diduga akibat pengaruh penggunaan pupuk serta obat-obatan pertanian.
Penggunaan pupuk dan obat berlebihan membuat cemaran dapat terlarut ke perairan. Jika kadar tinggi, cemaran mampu meracuni ekosistem perairan.
"Ditemukan cemaran bakteri fecal, paling mengkhawatirkan saat kemarau," ujarnya.
Baca Juga: Akhiri Polemik, Randu Alas Tuksongo Hanya Akan Ditebang dan Hanya Disisakan Sebagian Batang
Cemaran bakteri fecal ditemukan dengan kadar cukup tinggi dan melebih kadar baku mutu.
Lantaran, terjadi kenaikan kadar menembus angka puluhan ribu MPN/100 ml yang sewajarnya hanya diangka seribu MPN/100 ml.
Cemaran bakteri fecal dimungkinkan terjadi dengan potensi kontaminasi tinja manusia serta hewan.
Hal ini, juga berhubungan dengan sanitasi lingkungan di masyarakat. Termasuk di dalamnya pembuangan limbah peternakan ke sungai.
Baca Juga: Cara Ampuh Mengatasi Ngantuk Saat Puasa: Tips Tetap Segar Seharian
Kendati pencemaran ditemukan, pihaknya masih menganggap kondisi itu wajar. Lantaran, cemaran juga ditemukan di perairan sungai lain.
Bahkan beberapa sungai di luar Kulon Progo memiliki kadar cemaran lebih tinggi. Masyarakat diminta tak khawatir dengan kondisi cemaran.
Justru masyarakat diminta melakukan pencegahan sementara pada perairan sungai. Salah satunya, dengan memperhatikan sanitasi rumah dan peternakan.
Untuk mengatasi zat fosfat, masyarakat juga diminta tak menggunakan pestisida atau pupuk berlebihan. Selain itu, tak membuang sampah ke sungai, karena memperparah kondisi perairan. (gas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita