Penyebabnya, penurunan tingkat kunjungan wisata yang berasal dari pola perilaku pengunjung hingga larangan study tour.
Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) Kulon Progo Sutarman menyampaikan, kunjungan wisatawan ke objek wisata beretribusi mengalami penurunan.
Kendati tak lebih dari 10%, penurunan kunjungan berdampak pada perolehan PAD dari sektor retribusi wisata.
"Perolehan PAD turun 5,31%, tahun 2024 Rp 7,3 miliar dan 2025 Rp 6,9 miliar," ucap Sutarman, Minggu (11/1).
Sutarman menyampaikan, perolehan PAD 2025 tak sesuai target Dinpar Kulon Progo.
Pasalnya, PAD 2025 ditargetkan sebesar Rp 7,5 miliar. Angka perolehan menunjukkan capaian PAD 2025 hanya 92,06 persen.
Penyumbang penurunan PAD ini, berasal dari tingkat kunjungan wisata. Pasalnya, setelah kenaikan retribusi yang tertuang pada Peraturan Daerah Kulon Progo Nomor 6 Tahun 2023, kenaikan nominal retribusi tak sejalan dengan kenaikan kunjungan.
Di tahun 2025, kunjungan wisatawan ke objek wisata berretribusi justru turun dibanding tahun 2024.
Tahun 2025 kunjungan hanya mencapai angka 701 ribu atau turun 8,45% dari tahub sebelumnya.
"Objek wisata favorit masih dipegang Pantai Glagah, menjadi penyumbang 75% tingkat kunjungan," ungkapnya.
Penurunan kunjungan wisatawan, menurutnya juga terjadi di beberapa kabupaten di DIY.
Alasannya, berkaitan dengan perubahan pola berlibur masyarakat. Kini masyarakat memiliki perilaku micro tourism, dan tak menaruh minat pada mass tourism.
Micro tourism menekankan pada pengalaman berlibur di luar objek wisata populer.
Kini, masyarakat cenderung berlibur dengan cukup meluangkan waktu untuk berjalan-jalan.
Wisata kuliner juga menjadi pilihan masyarakat. Biasanya perilaku ini disebabkan pada penurunan daya beli masyarakat.
"Larangan study tour di awal tahun cukup mengguncang wisata," ucapnya.
Dua penyebab itulah, yang membuat Dinpar Kulon Progo melakukan kajian mendalam.
Untuk mengatasi perubahan pola berwisata, pihaknya menargetkan inovasi pada objek wisata berretribusi.
Upayanya, dengan membuat unsur penarik perhatian yang berfokus pada pengalaman wisata dan kuliner.
Hal ini telah dibuktikan dengan kemunculan, beberapa cafe di Pantai Glagah yang mampu memantik kunjungan wisata akibat perubahan perilaku pengunjung. Pihaknya masih melakukan kajian dari adapatasi yang serupa. (gas)
Editor : Bahana.