Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jamu, Perhiasan, hingga Jamuan Diangkat dalam Seminar Jejak Peradaban 2025 di Kulon Progo

Anom Bagaskoro • Sabtu, 6 Desember 2025 | 22:36 WIB
PELESTARIAN: GKR Bendara menjelaskan upaya keraton dalam mengangkat budaya. 
PELESTARIAN: GKR Bendara menjelaskan upaya keraton dalam mengangkat budaya. 

KULON PROGO - Seminar Jejak Peradaban 2025 kembali digelar di Hotel Morazen, Temon, Kulon Progo, Sabtu (6/12/2025).

Tahun ini, seminar mengusung tajuk Resiliensi Budaya Pada Era Disrupsi dengan mengangkat beberapa topik.

Mulai dari jamu, perhiasan, hingga jamuan.

Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya GKR Bendara menjelaskan, seminar jejak peradaban kembali hadir di tahun kedua.

Seminar, cukup erat kaitannya dengan agenda pameran yang bertemakan Pangastho Aji: Perjalanan Sultan HB VIII.

"Seminar ini mencoba mengenalkan produk-produk yang dulu hanya bisa diakses di dalam keraton, namun semasa HB VIII bisa diakses semua orang," ucap GKR Bendara, saat Konferensi Pers Seminar Jejak Perdaban, Sabtu (6/12/2025).

GKR Bendara menjelaskan, di era HB VIII banyak produk asli keraton yang akhirnya keluar dan diadopsi masyarakat luas.

Berkat keterbukaan itu, banyak produk yang akhirnya dapat lestari di era perkembangan zaman. Di antaranya, Jamu, Perhiasan, hingga Jamuan.

Proses industrialisasi telah terjadi di era HB VII.

Namun, di era HB VIII dipastikan proses industrialisasi tak mengikis budaya.

Hal ini disebabkan oleh upaya pelestarian budaya yang adaptif.

Budaya bukan lagi konsumsi kalangan keraton, melainkan bisa diakses masyarakat luas.

"Praktik pengemasan budaya di era HB VIII ini cukup relevan dengan masyarakat di waktu itu," ucapnya.

Pengemasan budaya yang dulu dilakukan cukup efektif dalam pelestarian.

Bahkan produk budaya, seperti Jamu, Perhiasan Perak, hingga Jamuan tetap lestari di abad 20 ini.

Hal inilah yang diangkat dalam seminar.

Peserta merupakan pelaku wisata, UKM, dan akademisi diajak memahami pengemasan budaya yang relevan dengan masyarakat. T

ujuannya, melestarikan produk budaya agar tak lekang oleh jaman.

Sementara itu, Pembicara Seminar Priya Salim menyampaikan produk budaya dari era HB VIII afalah perhiasan perak.

Perajin Perak Kota Gede ini, mengungkapkan masa kejayaan perak Jogja ada di era HB VIII.

Saat itu, banyak pengrajin yang memperoleh keuntungan dari kerajinan perak.

"Di era HB VIII, pengrajin perak memiliki penghasilan tinggi," ungkapnya.

Kerajinan perak Kotagede memiliki rentetan sejarah sejak Mataram Islam.

Banyak motif klasik yang di era HB VIII bukan lagi komsumsi bangsawan saja. Melainkan masyarakat luas.

Dalam seminar ini, ciri khas pengrajin Kotagede digetoktularkan.

Mulai dari seni ukir, ondelan, hingga meniran. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#perhiasan #Seminar Jejak Peradaban 2025 #HB VIII #jamu #jamuan #GKR Bendara