KULON PROGO - Dinas Perdagangan (Disdag) Kulon Progo segera menggelar operasi pasar (opsar).
Langkah ini, dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan harga kebutuhan pokok menjelang dan saat natal tahun baru (nataru).
Kepala Bidang Urusan Perdagangan Disdag Kulon Progo Endang Zulywanti menjelaskan, opsar akan digelar selama Desember.
Paling awal akan menyentuh masyarakat Kapanewon Wates dan sekitarnya.
"Ada empat titik kami siapkan untuk menggelar Operasi Pasar," ucap Endang, Rabu (3/12/2025).
Yaitu; 4 Desember (Kantor Kapanewon Wates), 8 Desember (Kantor Kapanewon Kokap), 10 Desember (Kantor Kapanewon Samigaluh) dan 11 Desember (Kantor Kapanewon Nanggulan).
Operasi Pasar menyediakan, beragam kebutuhan pokok dengan harga relatif terjangkau.
Utamanya, beras, minyak goreng, ataupun gula pasir.
Lantaran, harga komoditas ini berpotensi mengalami kenaikan saat Nataru nanti.
Operasi Pasar bertujuan memberikan masyarakat kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
Pada Operasi pasar Desember ini, satu titik akan menerima suplai 2,5 ton per komoditas.
Komoditas ini telah disubsidi melalui beberapa skema, yang menyasar produk beras, gula, minyak goreng, dan bawang merah.
Subsidi ini, berpengaruh pada harga yang diperjualbelikan ke masyarakat.
Selain operasi pasar yang menyasar titik masyarakat, operasi pasar pantauan juga ikut digelar.
Mekanisme operasi ini, dilakukan dengan cara penyaluran bahan pokok ke beberapa pedagang di pasar.
Tentunya, bahan pokok itu telah di subsidi pemerintah.
"Ini kerjasama Disdag Kulon Progo dan DIY, distribusinya ke 22 pedagang," ungkapnya.
Operasi pasar pantauan memastikan harga kebutuhan pokok rendah.
Lantaran, pedagang dilarang menjual dengan harga tinggi, karena harga telah disubsidi pemerintah.
Di samping itu, penjualan akan dibatasi dan dipantau ketat oleh Disdag.
Sementara itu, melambungnya harga bahan pokok mulai dirasakan Pedagang Pasar Desa Sentolo Rujilah.
Kendati harga beras stabil di kisaran Rp 14 ribu hingga Rp 15 ribu, harga komoditas lain justru melambung.
"Harga cabai tiba-tiba melambung mencapai Rp 70 ribu," ungkapnya.
Rujilah berharap agar harga distabilkan oleh pemerintah.
Lantaran, pedagang kecil sepertinya kebingungan menjual barang dengan harga tinggi. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva