KULON PROGO - Musim penghujan menjadi tantangan tersendiri bagi pertanian kopi di Perbukitan Menoreh.
Sebab, kualitas kopi mengalami penurunan akibat faktor kelembapan.
Petani Kopi Asal Kalurahan Pagerharjo Agustinus Sulistyo membeberkan sejumlah temuan yang dihadapi petani di kelompoknya.
Temuan itu ada pada kualitas biji kopi yang cenderung mengalami penurunan.
"Buahnya lebih banyak, tapi kualitasnya menurun," ucap pria yang akrab disapa Tyo, Kamis (27/11/2025).
Saat musim hujan, kadar air dari cherry kopi naik akibat terkontaminasi dengan air. Alhasil, kebutuhan penyinaran untuk mengeringkan ceri diperlukan lebih lama.
Di samping itu, pemisahan dan pengeringan kopi menjadi green bean masih menggunakan cara konvensional.
Pengeringan memanfaatkan sinar matahari. Akibatnya, saat musim penghujan penyinaran tak berjalan optimal.
Petani di Perbukitan Menoreh juga belum memiliki teknologi yang memadai untuk penyimpanan.
Kebanyakan petani menyimpan green bean kopi dalam karung yang telah diselimuti plastik.
Tujuannya, agar kelembapan biji kopi tak terkontaminasi luar.
"Kalau punya alat mungkin bisa menjaga kualitas, tapi petani di Kulon Progo masih minim," ungkapnya.
Kendati menemui kendala, petani kopi Kulon Progo masih dapat menerima keuntungan.
Lantaran, pasar kopi lokal cukup terbuka luas.
Harga kopi Perbukitan Menoreh juga tergolong tinggi, mulai dari Rp 120 ribu hingga Rp 150 ribu per kilogram untuk green bean.
Sebelumnya, Bupati Kulon Progo Agung Setyawan menegaskan upaya pemkab untuk meningkatkan produktivitas pertanian kopi di Perbukitan Menoreh.
Salah satu programnya, berupa revitalisasi tanaman kopi.
"Arahnya hilirisasi produk pertanian, menambahkan nilai jual," ungkapnya.
Perbukitan Menoreh menjadi salah satu lokus, pengembangan pertanian kopi.
Pemkab Kulon Progo mengupayakan sejumlah bantuan berupa teknologi pertanian untuk meningkatkan pengolahan hasil panen.
Tak sampai situ, produk kopi diarahkan memiliki satu brand ketika di ekspor ke luar negeri. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva