KULON PROGO - Berubahnya nama Jembatan Pandansimo menjadi Jembatan Kabanaran diklaim sesuai historis.
Pemilihan nama Kabanaran dilatarbelakangi unsur sejarah.
Wilayah Kalurahan Banaran dulunya dipercaya sebagai markas perjuangan Pangeran Mangkubumi.
Namun menimbulkan perdebatan di sejumlah pihak.
Akan tetapi, warga Kalurahan Banaran percaya dengan sejarah Pangeran Mangkubumi yang sempat mendirikan markas di Kalurahan Banaran, Kulon Progo.
Bahkan pendirian Kabanaran, dilakukan sebelum Gunung Gamping dan Keraton Jogja lahir.
Lurah Banaran Haryanta menjelaskan, sebagian besar masyarakatnya mempercayai cerita perjuangan Mangkubumi di tanah Kalurahan Banaran.
Bahkan, sejak ia kanak-kanak, cerita itu telah disebarluaskan dari mulut ke mulut.
"Cerita yang berkembang Pangeran Mangkubumi sempat madepok atau bermarkas di desa ini," ucap Haryanta, Jumat (21/11/2025).
Haryanta menjelaskan, cerita yang berkembang di masyarakat menjelaskan markas Mangkubumi.
Akan tetapi, tak menjelaskan proses diangkatnya Mangkubumi menjadi Sunan Kabanaran.
Baca Juga: Seri Apparel Lengkap New Honda ADV160 Bagi Para Petualang
Di samping itu, cerita rakyat yang berkembang perlu dibuktikan secara ilmiah.
Akan tetapi, pembuktian dari kalurahan tak dapat dilakukan.
Lantaran, tak ada catatan sejarah apapun yang ditinggalkan.
Terutama perihal aktivitas Pangeran Mangkubumi di Kalurahan Banaran.
Sebagian masyarakat percaya, situs Makam Kiyai Depok Tambakboyo, di Padukuhan Bleberan, Kalurahan Banaran merupakan pusat markas Mangkubumi melawan penjajah Belanda.
Di situs itu, terdapat sejumlah makam yang dipercaya sebagai cikal bakal berdirinya kalurahan.
Sekaligus, situs dimakamkannya sosok penyebar agama Islam.
"Yang tersisa hanya situs Kiyai Depok Tambakboyo, persis di samping Sungai Progo," ungkapnya.
Perihal nama Kabanaran, pihaknya mencatat adanya perubahan nama.
Di tahun 1925, nama Kalurahan Kabanaran berubah menjadi Banaran.
Saat itu, lurah pertama bernama Padmo Diharjo.
Sosok lurah ini mengumpulkan warga sekitar untuk mendirikan kalurahan dengan merubah nama yang lebih pendek menjadi Kalurahan Banaran.
Terlepas dari perdepatan fakta sejarah, masyarakat Kalurahan Banaran menyambut baik penamaan jembatan.
Lantaran, masyarakat lebih menyukai nama Kabanaran, sesuai dengan daerah mereka.
"Kami menyambut baik, karena nama itu dekat dengan kami dan berhubungan dengan cikal bakal kalurahan," ungkapnya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva