KULON PROGO - Memasuki musim tanam, sejumlah daerah penghasil beras diminta melakukan pengendalian hama tikus.
Hal ini karena potensi serangan hama tikus dapat terjadi sewaktu-waktu. Upaya pengendalian penting agar tanaman padi tidak mengalami kerusakan.
Kordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapa) Kulon Progo Supomo mengatakan, utamanya daerah penghasil padi dan endemik hama tikus seperti Kapanewon Nanggulan dan Girimulyo.
"Dua Kapanewon ini memang endemik tikus, jadi perlu pengendalian khusus saat masa tanam," ucap Supomo, Kamis (20/11/2025).
Supomo menjelaskan, aktivitas hama tikus di Kulon Progo terpantau masih minim. Akan tetapi, kenaikan jumlah hama tikus berpotensi terjadi sewaktu-waktu.
Lantaran, siklus berkembangbiak tikus termasuk pendek. Sehingga, potensi kerusakan akibat hama bisa terjadi.
Baca Juga: DBSMB SV UGM Resmi Ditetapkan sebagai CTC TUV Rheinland Regional DIY
Serangan hama tikus, diklaim dapat menurunkan hasil panen 30 persen per tahunnya. Pengendalian hama perlu dilakukan sejak masa tanam awal.
Karakteristik kawasan pertanian di Kulon Progo juga menekankan pentingnya pengendalian tikus. Pasalnya, pola tanam palawija dapat memantik perkembangan tikus.
Kondisi itu, membuat Dispertapa Kulon Progo mengimbau petani melakukan pengendalian hama secara mandiri ataupun kelompok.
Baca Juga: Cegah Tawuran Pelajar, 11 Warga Kabupaten Magelang Dapat Penghargaan dari Polresta
Pihaknya telah melakukan pendampingan sejumlah kelompok tani untuk memberantas hama tikus.
Tak hanya pendampingan, distribusi alat bantu dan bahan pemberantas hama juga diberikan.
"Tekniknya beragam, kalau mandiri bisa pakai emposan untuk menekan biaya hampir 50 persen," ungkapnya.
Baca Juga: Jadi Pondasi Ekonomi Daerah, Pemprov Jateng Beri Perhatian Penuh pada UMKM
Pengendalian hama secara mandiri dapat dilakukan dengan emposan. Teknik ini berfokus pada metode pengasapan lubang tikus.
Tujuannya, agar tikus yang bersembunyi di sarang kehabisan oksigen dan mati di dalam.
Cara ini, tergolong efektif. Pasalnya, dalam satu lubang terdapat 2-4 tikus.
Salah satu daerah yang telah efektif mengendalikan hama adalah kawasan pertanian di Padukuhan Pronosutan, Kalurahan Kembang, Kapanewon Nanggulan.
Dukuh Pronosutan Edi Darmawan menyampaikan, gerakan pengendalian hama tikus rutin dilakukan petani.
"Pengendalian minimal tiga kali dalam satu kali musim tanam," ungkapnya.
Edi menyebut, giatnya petani mengendalikan hama tikus berawal dari kasus rusaknya tanaman padi.
Kerusakan dipicu akibat serangan hama tikus beberapa tahun lalu. Dalam satu hektare tanaman padi, serangan hama tikus dapat menimbulkan kerugian Rp 8 juta. Alhasil, keuntungan petani berkurang. (gas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita